HARI ini, manusia berhasil menciptakan mesin yang bisa menjawab hampir semua pertanyaan. 

Tinggal mengetik, menunggu beberapa detik, kemudian keluar jawaban yang rapi, sistematis, bahkan kadang terdengar lebih pintar daripada orang yang bertanya. 

Membuat surat, laporan, artikel, bahan presentasi, menerjemahkan dokumen, mencari ide, menganalisis data, membuat gambar, menulis kode, sampai membantu menyusun argumentasi.

Semuanya kini dapat dilakukan dengan bantuan artificial intelligence atau AI. 

Teknologi ini memang luar biasa dan terlalu naif jika kita menolaknya hanya karena takut pada perubahan. 

AI telah menjadi alat produktivitas yang nyata, membuka kemungkinan baru dalam pendidikan, penelitian, pelayanan publik, dunia usaha, kreativitas dan pengelolaan lingkungan. 

Namun di tengah euforia itu ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, mesin tersebut hidup dari apa?

Pertanyaan itu penting karena AI sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang abstrak dan hampir tidak memiliki jejak fisik. 

Kita mengetik melalui ponsel atau komputer, lalu jawaban muncul di layar. Tidak terlihat suara mesin, pipa air, pembangkit listrik, gedung pusat data, server dan perangkat keras yang bekerja di belakangnya. 

Kita kemudian merasa bahwa AI adalah sesuatu yang virtual. Padahal AI mempunyai tubuh fisik yang sangat besar. Ia bergantung pada pusat data, jaringan komunikasi, server, GPU, sistem pendinginan, listrik, mineral, semikonduktor, bangunan dan manusia yang menjaga seluruh sistem tersebut tetap berjalan. 

Kita menyebutnya cloud, tetapi cloud itu bukan awan. Ia adalah infrastruktur nyata yang membutuhkan sumber daya nyata.

Persoalannya menjadi semakin menarik ketika kita berbicara tentang air. AI memang tidak minum air secara langsung seperti manusia, tetapi infrastruktur komputasi menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga membutuhkan sistem pendinginan. 

Pada teknologi tertentu, pendinginan tersebut membutuhkan air, sementara jejak air juga dapat muncul secara tidak langsung melalui sistem pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data. 

Penelitian tentang pusat data telah menunjukkan bahwa penggunaan air merupakan bagian dari jejak lingkungan industri komputasi dan bahwa transparansi mengenai konsumsi air masih menjadi tantangan di sejumlah tempat.

Namun kita harus berhati-hati. Tidak ada satu angka yang bisa digunakan untuk menyatakan bahwa setiap pertanyaan kepada AI mengonsumsi jumlah air yang sama. 

Jejak air bergantung pada model, lokasi pusat data, iklim, teknologi pendinginan, efisiensi perangkat keras, sumber energi dan metode penghitungan. 

Karena itu, angka sensasional mengenai sekian mililiter air untuk satu pertanyaan sebaiknya tidak diterima mentah-mentah. Yang jauh lebih penting adalah memahami skala penggunaan.

Satu permintaan mungkin relatif kecil. Tetapi jutaan atau miliaran permintaan yang dilakukan terus-menerus tentu menghasilkan kebutuhan komputasi yang jauh lebih besar. 

Persoalan ekologis sering memang bekerja seperti itu, sesuatu yang kecil pada tingkat individu dapat menjadi besar ketika dilakukan secara massal. 

Maka persoalannya bukan sekadar berapa air yang digunakan untuk satu prompt, tetapi bagaimana pertumbuhan penggunaan AI secara keseluruhan mendorong pertumbuhan pusat data, kebutuhan energi dan kebutuhan sumber daya lainnya.

Dari layar menuju pembangkit listrik

Pertumbuhan AI juga membawa konsekuensi pada energi. 

International Energy Agency mencatat bahwa konsumsi listrik pusat data meningkat sekitar 17 persen pada 2025 dan menempatkan ekspansi AI sebagai salah satu pendorong penting pertumbuhan kebutuhan tersebut. 

Lawrence Berkeley National Laboratory juga memperkirakan pusat data dapat mencapai sekitar 11,8 persen konsumsi listrik Amerika Serikat pada 2030 dalam skenario utama mereka.

Angka-angka tersebut tidak berarti AI harus dianggap sebagai musuh lingkungan. Justru di sinilah diskusinya harus lebih dewasa. 

AI dapat membantu mengoptimalkan jaringan listrik, memprediksi kebutuhan energi, meningkatkan efisiensi industri, mendukung pemodelan iklim, mendeteksi perubahan tutupan hutan, membantu pengelolaan air dan mempercepat penelitian. 

Teknologi yang sama yang membutuhkan energi untuk beroperasi juga dapat digunakan untuk membantu manusia menghemat energi.

Jadi persoalannya bukan AI atau lingkungan. Persoalannya adalah bagaimana AI dikembangkan dan digunakan agar manfaatnya tidak dibayar dengan biaya ekologis yang tidak proporsional. Sebab yang gratis bagi pengguna belum tentu gratis bagi bumi.

Ada paradoks lain yang perlu kita perhatikan. AI membuat produksi digital menjadi sangat murah dan mudah. 

Dahulu membuat sebuah tulisan membutuhkan proses membaca, berpikir, menyusun, menulis dan mengedit. Sekarang cukup mengetik beberapa kalimat dan sebuah draf dapat muncul dalam hitungan detik. Untuk pekerjaan tertentu, ini adalah kemajuan luar biasa.

Masalahnya muncul ketika kemudahan berubah menjadi pemborosan. Kita tidak lagi membuat satu gambar, tetapi puluhan karena semuanya mudah diregenerasi. 

Kita tidak lagi menyusun satu draf, tetapi meminta AI membuat sepuluh versi tanpa kebutuhan yang jelas. 

Kita mengulang pertanyaan berkali-kali bukan karena informasi tambahan diperlukan, tetapi karena kita mengejar formulasi yang sedikit lebih bagus. 

Kita meminta AI mengerjakan hal-hal sederhana yang sebenarnya dapat kita lakukan sendiri.

Di sinilah muncul budaya boros karena murah. Sesuatu terasa gratis atau sangat murah di sisi pengguna, tetapi tetap membutuhkan sumber daya di belakang layar. 

Kita tidak melihat listrik yang digunakan, air yang mungkin diperlukan untuk pendinginan, perangkat keras yang bekerja, ataupun infrastruktur yang menopang layanan tersebut. 

Bukan berarti setiap pengguna harus merasa bersalah setiap kali membuka AI. Itu juga berlebihan. 

Pesannya jauh lebih sederhana, gunakan komputasi ketika manfaatnya memang ada, bukan sekadar karena komputasi itu tersedia.

Kita juga harus adil kepada AI. Ada kecenderungan dalam kritik teknologi untuk hanya melihat sisi gelapnya. Itu sama kelirunya dengan menganggap teknologi selalu membawa kemajuan. 

AI memiliki manfaat nyata jika digunakan dengan tepat. Guru dapat menggunakannya untuk menyiapkan variasi materi pembelajaran. 

Peneliti dapat menggunakannya untuk membantu mengolah literatur dan data. Pemerintah dapat memanfaatkannya untuk analisis dokumen dan data pelayanan publik. 

Dunia usaha dapat menggunakannya untuk otomatisasi proses tertentu. Organisasi lingkungan dapat memanfaatkannya untuk pemetaan, analisis data, pemantauan perubahan tutupan lahan dan komunikasi publik.

Dalam pengelolaan lingkungan, kemampuan AI untuk membaca pola dari data dalam jumlah besar dapat menjadi sangat berguna. 

Data satelit, sensor, citra, cuaca dan informasi lapangan dapat dianalisis untuk membantu mendeteksi perubahan ekosistem atau memperkirakan risiko tertentu. 

AI juga berpotensi membantu pengelolaan sumber daya air dan energi secara lebih efisien. 

Karena itu, mengatakan AI merusak lingkungan secara mutlak sama tidak akuratnya dengan mengatakan AI akan menyelamatkan lingkungan. 

Keduanya terlalu sederhana. Dampak AI ditentukan oleh teknologi yang digunakan, cara teknologi itu dikembangkan, sumber daya yang menopangnya dan tujuan penggunaannya.

Ada persoalan lain yang menurut penulis bahkan lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, ketergantungan. 

AI seharusnya menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti kemampuan berpikir. Ketika seseorang menggunakan AI untuk pekerjaan yang kompleks dan membutuhkan bantuan komputasi, manfaatnya jelas. 

Tetapi ketika seseorang menyerahkan seluruh proses membaca, menyusun argumen, memeriksa fakta, mengambil keputusan dan bahkan menentukan pendapat kepada mesin, kita mulai memasuki wilayah yang berbeda.

Bahaya sebenarnya bukan ketika AI bisa menulis lebih cepat daripada kita. Bahayanya adalah ketika kita berhenti menulis karena merasa tidak perlu belajar lagi. 

Bukan ketika AI bisa mencari informasi. Bahayanya ketika kita tidak lagi membaca sumber asli. 

Bukan ketika AI dapat membantu membuat keputusan. Bahayanya ketika manusia melepaskan tanggung jawab atas keputusan tersebut.

AI juga bisa menghasilkan informasi yang keliru, termasuk jawaban yang terdengar sangat meyakinkan. 

Karena itu, semakin sering AI digunakan, semakin penting kemampuan manusia melakukan verifikasi. 

Jawaban yang rapi bukan jaminan kebenaran. Bahasa yang akademik bukan bukti bahwa sumbernya valid. Dan kecanggihan model bukan alasan untuk menonaktifkan nalar kritis.

Bagi pengguna sehari-hari, prinsipnya sebenarnya sederhana. Gunakan AI ketika ia benar-benar memberikan nilai tambah, ketika pekerjaan membutuhkan pengolahan data besar, ketika kita membutuhkan bantuan menyusun draf,.

Ketika pekerjaan berulang dapat diotomatisasi, ketika AI membantu memahami informasi yang kompleks atau ketika teknologi tersebut dapat meningkatkan kualitas pekerjaan.

Sebaliknya, jangan menjadikan AI sebagai refleks untuk setiap persoalan kecil. Jika sebuah tugas dapat dilakukan sendiri dalam beberapa menit dan proses tersebut penting untuk melatih kemampuan berpikir, lakukan sendiri. 

Jangan meminta puluhan regenerasi tanpa tujuan. Jangan menghasilkan konten digital berlebihan hanya karena produksinya mudah. 

Dan jangan menyerahkan keputusan penting kepada AI tanpa memahami serta memeriksa dasar keputusannya. Gunakan AI sebagai asisten, bukan sebagai pengganti otak.

Dunia pendidikan juga harus merespons perubahan ini. Larangan semata tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi membiarkan peserta didik menggunakan AI tanpa literasi juga bukan solusi. 

Yang perlu diajarkan bukan hanya bagaimana membuat prompt, tetapi bagaimana memeriksa hasil AI, menemukan kesalahan, memverifikasi sumber, memahami bias data, menjaga privasi, menghargai hak cipta dan mengetahui kapan sebuah pekerjaan harus dikerjakan secara mandiri. 

Pendidikan harus bergeser dari sekadar menguji kemampuan menghasilkan jawaban menjadi kemampuan memahami, memeriksa, menjelaskan dan mempertanggungjawabkan jawaban.

Kalau AI dapat membuat esai dalam hitungan detik, maka sekolah dan kampus harus semakin kuat menguji kemampuan berpikir yang tidak mudah digantikan mesin, argumentasi, analisis, observasi, penelitian lapangan, diskusi, eksperimen dan kemampuan mempertanggungjawabkan gagasan.


Peran Pemerintah

Pemerintah memiliki tanggung jawab yang berbeda. Ketika pusat data dan industri AI berkembang, kebijakan tidak boleh hanya berbicara tentang investasi, konektivitas dan transformasi digital. 

Pemerintah juga harus memasukkan aspek air, energi, tata ruang, lingkungan, risiko bencana dan dampak sosial ke dalam perencanaan.

Sebuah pusat data bukan hanya proyek teknologi. Ia adalah fasilitas fisik yang membutuhkan lahan, listrik, sistem pendinginan dan infrastruktur pendukung. Karena itu, kelayakan investasi seharusnya berjalan bersama penilaian daya dukung wilayah.

Pertanyaan pemerintah tidak boleh hanya berapa nilai investasinya? Tetapi juga berapa kebutuhan airnya?, Dari mana sumber airnya? Berapa kebutuhan energinya? Bagaimana dampaknya terhadap jaringan lokal?

Bagaimana limbah perangkat keras dikelola? Dan, bagaimana masyarakat sekitar dilindungi apabila terjadi tekanan terhadap sumber daya?

Investasi digital penting. Tetapi investasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan batas ekologis.

Industri AI juga tidak bisa melempar seluruh tanggung jawab kepada pengguna. Perusahaan teknologi memiliki kemampuan terbesar untuk mengurangi dampak karena mereka mengendalikan desain model, perangkat keras, pusat data dan sistem pendinginan. 

Efisiensi model harus menjadi bagian dari inovasi, bukan sekadar mengejar model yang semakin besar. 

Penggunaan energi dan air harus semakin transparan. Teknologi pendinginan yang hemat air perlu terus dikembangkan. Umur perangkat keras perlu diperpanjang dan limbah elektronik harus dikelola secara bertanggung jawab.

Publik juga layak memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai jejak energi dan air dari infrastruktur AI. 

Kalau industri meminta masyarakat percaya bahwa AI adalah bagian penting dari masa depan, maka masyarakat juga berhak mengetahui berapa biaya ekologis dari masa depan tersebut. 

Yang kita butuhkan bukan manusia yang membenci AI, melainkan manusia yang memahami batas AI.

Kita tidak perlu menolak teknologi yang dapat membantu dokter, guru, peneliti, pemerintah, pekerja, pelaku usaha dan organisasi lingkungan. 

Kita juga tidak perlu merasa bersalah menggunakan AI untuk pekerjaan yang memang dapat diselesaikan lebih baik dengan bantuan teknologi. 

Yang perlu ditolak adalah penggunaan tanpa tujuan, pemborosan tanpa kesadaran dan ketergantungan tanpa kontrol. 

Sebab ada perbedaan besar antara menggunakan teknologi dan menjadi tergantung pada teknologi. 

Orang yang menggunakan palu tetap tahu cara bekerja tanpa palu. Orang yang tergantung pada palu akan kesulitan membayangkan pekerjaan tanpa alat tersebut. 

Demikian pula AI. Kita boleh menggunakannya untuk memperkuat kemampuan kita, tetapi jangan sampai kemampuan itu hilang karena terlalu lama diserahkan kepada mesin.

Pada akhirnya, AI adalah bagian dari perubahan besar dalam cara manusia bekerja dan berpikir. 

Menolak perubahan tidak akan menghentikannya. Tetapi menerima perubahan tanpa pertanyaan juga bukan sikap yang bijaksana. 

Kita membutuhkan AI yang lebih efisien, lebih transparan dan lebih bertanggung jawab secara ekologis. 

Kita membutuhkan perusahaan yang tidak hanya berlomba membuat model semakin besar, tetapi juga berlomba mengurangi kebutuhan energi, air dan material. 

Kita membutuhkan pemerintah yang tidak hanya mengejar investasi digital, tetapi menghitung daya dukung wilayah. 

Kita membutuhkan sekolah dan kampus yang mengajarkan literasi AI, bukan sekadar kemampuan membuat prompt. 

Dan, kita membutuhkan pengguna yang memahami bahwa kemudahan teknologi bukan alasan untuk menggunakannya tanpa batas.

Pada tingkat individu, barangkali prinsipnya sederhana, pakai AI ketika diperlukan, gunakan secukupnya, periksa hasilnya, dan tetap gunakan kemampuan berpikir sendiri.

 Sebab, tidak semua pekerjaan harus dilakukan oleh mesin hanya karena mesin mampu melakukannya. Tidak semua gambar harus dibuat oleh AI hanya karena kita bisa membuatnya. 

Tidak semua pertanyaan harus dilempar kepada AI hanya karena jawabannya tersedia dalam hitungan detik.

Sesekali, biarkan manusia membaca tanpa bantuan mesin. Menulis tanpa bantuan mesin. Menghitung tanpa bantuan mesin. Mengamati lingkungan tanpa bantuan mesin. 

Berdiskusi dengan manusia lain. Berpikir sampai menemukan jawaban sendiri. Itu bukan penolakan terhadap teknologi.

Itu adalah cara memastikan bahwa teknologi tetap berada pada tempatnya, sebagai alat yang memperkuat manusia, bukan pengganti manusia.

Dan, kepada kita semua, terutama mereka yang sedang menikmati kemudahan AI setiap hari, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi seberapa pintar AI?

Melainkan seberapa bijak kita menggunakannya? Sebab setiap teknologi mempunyai jejak. 

AI pun demikian. Di balik satu layar yang bersih terdapat pusat data, listrik, perangkat keras, sistem pendinginan, air, mineral dan tenaga manusia. 

Kita tidak harus takut terhadap jejak tersebut, tetapi kita juga tidak boleh berpura-pura bahwa jejak itu tidak ada.

AI boleh berkembang. Bahkan mungkin harus berkembang. Tetapi perkembangan itu harus berjalan bersama efisiensi, transparansi, tanggung jawab ekologis dan kendali manusia. 

Karena masa depan bukan tentang memilih antara manusia atau AI. Masa depan adalah tentang memastikan AI tetap menjadi teknologi yang bekerja untuk manusia. Sementara manusia tetap bertanggung jawab terhadap bumi tempat teknologi itu hidup.

Dan pada titik itulah kecerdasan yang sesungguhnya diuji, bukan hanya kemampuan membuat mesin semakin pintar, tetapi kemampuan manusia menentukan kapan teknologi digunakan, untuk apa digunakan, dan kapan harus berhenti menggunakannya. (*)


---------------------------

*Penulis adalah Head of Project Operations Nayaka Foundation, organisasi non-pemerintah yang bergerak dalam advokasi kebijakan publik, keadilan sumber daya alam, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia juga merupakan anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Barito (TKPSDA WS Barito) yang dibentuk oleh Kementrian PUPR

Ia mewakili unsur non-pemerintah berperan dalam penguatan tata kelola sumber daya air yang partisipatif, transparan, dan berkelanjutan. Dalam kerja investigasinya, ia berfokus pada riset berbasis data, penelusuran dokumen dan regulasi, verifikasi fakta lapangan, serta pengungkapan persoalan tata kelola sumber daya alam yang berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Ia mendorong agar setiap kebijakan, aktivitas pembangunan, dan pengelolaan sumber daya alam dapat diuji secara terbuka berdasarkan fakta, bukti, kepentingan publik, dan prinsip akuntabilitas, karena baginya, investigasi bukan sekadar menemukan apa yang terjadi, tetapi memastikan fakta yang ditemukan tidak berhenti sebagai temuan dan suara masyarakat tidak hilang di balik kepentingan kekuasaan maupun korporasi. 


Catatan:

Seluruh isi tulisan (opini) menjadi tanggung jawab penuh penulis