DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  – Urusan surat-menyurat, pengelolaan dokumen hingga promosi kegiatan desa kini mulai ditopang keterampilan digital di Desa Panggung, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan. 

Program Studi Teknologi Informasi Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) membekali aparatur desa, kader PKK dan masyarakat setempat melalui empat pelatihan digital yang digelar dalam dua tahap, 21 April dan 21 Mei 2026.

Pelatihan tidak sekadar mengenalkan aplikasi. Peserta langsung diarahkan memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari membuat surat secara lebih efisien, mengelola dokumen bersama, mempromosikan potensi desa melalui Instagram hingga membuat poster informasi secara mandiri.

Pada tahap pertama, 21 April, aparatur Desa Panggung mendapat pelatihan Microsoft Word dan Microsoft Excel, khususnya pemanfaatan fitur mail merge untuk mendukung administrasi persuratan.

Materi yang disampaikan Najamudin Ridha, M.Kom., mencakup pembuatan dokumen utama, penyusunan sumber data di Excel, penghubungan data dengan Word, penggunaan merge field, hingga proses pratinjau dan pencetakan.

Teknik tersebut dapat diterapkan untuk kebutuhan administrasi desa, seperti pembuatan surat undangan, surat keterangan dan dokumen pelayanan masyarakat dengan format yang seragam.

Di hari yang sama, Politala juga membekali pengurus PKK, perangkat desa, masyarakat dan pemuda melalui pelatihan optimalisasi Instagram.

Mifthahul Rahmi MKom bersama Zaenul Mutaqin MMSI memberikan materi mulai dari pengelolaan akun, pembuatan konten, pengambilan foto dan video sederhana, penulisan caption, penggunaan hashtag hingga strategi publikasi.

Media sosial diarahkan bukan hanya sebagai ruang berbagi aktivitas pribadi, tetapi menjadi sarana memperkenalkan potensi Desa Panggung, termasuk produk UMKM, kegiatan sosial dan program pemberdayaan masyarakat.

Dampaknya terlihat dari hasil evaluasi. Dari sembilan responden, sebanyak 33,3 persen mengaku jauh lebih memahami fitur Instagram, sementara 66,7 persen lainnya menyatakan cukup memahami. 

Bahkan, 88,9 persen responden masih menginginkan pelatihan atau pendampingan lanjutan.

Kebutuhan untuk terus mengembangkan kemampuan digital itu kemudian dilanjutkan pada tahap kedua, 21 Mei 2026.

Sebanyak 18 perangkat Desa Panggung mengikuti pelatihan penggunaan Google Docs yang disampaikan Khairul Anwar Hafizd MKom.

Peserta tidak hanya belajar membuat dan mengelola dokumen. Mereka juga diperkenalkan dengan pembuatan tabel, pengunduhan dan pencetakan dokumen, berbagi akses, kolaborasi hingga melihat riwayat perubahan.

Dengan sistem berbasis cloud, pekerjaan administrasi dapat dilakukan secara bersama-sama tanpa harus selalu bergantung pada satu perangkat atau satu orang pengelola.

Hasil evaluasinya menunjukkan peningkatan yang cukup nyata. Nilai rata-rata peserta naik dari 67 pada pretest menjadi 91 pada posttest.

Sementara bagi kelompok PKK dan masyarakat, pelatihan tahap kedua diarahkan pada pembuatan poster edukasi menggunakan Canva.

Sebanyak 22 peserta mendapat pendampingan dari Aidil Fajar Zulfahri, M.Kom. Materi mencakup pemilihan template, pengaturan warna dan tulisan, penggunaan gambar serta elemen desain hingga penyusunan poster edukasi.

Keterampilan tersebut diharapkan dapat membuat kader PKK lebih mandiri dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, baik mengenai kesehatan keluarga, kegiatan sosial, pemberdayaan maupun program kemasyarakatan lainnya.

Empat pelatihan tersebut menjadi bagian dari pengabdian Program Studi Teknologi Informasi Politala dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Bagi Desa Panggung, keterampilan yang dibawa pulang peserta bukan sekadar pengetahuan tentang aplikasi. 

Ada kemampuan yang bisa langsung digunakan untuk mempercepat administrasi, memudahkan kolaborasi, memperkuat penyebaran informasi dan mengenalkan potensi desa di ruang digital.

Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa dan masyarakat pun diharapkan dapat terus dikembangkan, sehingga pemanfaatan teknologi informasi tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari aktivitas pelayanan dan pemberdayaan masyarakat desa.

(derapwaktu.com/roy)