Ahmad, warga Kabupaten Tanah Laut (Tala) yang sedang melakukan perjalanan menuju Kapuas, Kalimantan Tengah, mengatakan hujan sudah turun sejak sebelum kawasan kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB).
“Tadi kami mendapati hujan sebelum kampus UMB. Sampai lewat Jembatan Barito masih deras. Memasuki kawasan Anjir Pasar baru mulai mereda,” tuturnya.
Dikatakannya, hujan turun sekitar pukul 16.00 Wita. Hingga petang waktu mahgrib hujan masih mengguyur.
Bagi sebagian warga, hujan kali ini bukan sekadar perubahan cuaca. Guyuran air dari langit menjadi harapan setelah kemarau membuat sejumlah sumber air warga mulai mengering.
Sumur-sumur gali di sejumlah kawasan dilaporkan mengalami penyusutan debit, bahkan sebagian warga mulai kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi serupa juga dirasakan warga Pelaihari, Tanah Laut. Di tengah belum turunnya hujan, distribusi air PDAM mulai dilakukan secara bergiliran berdasarkan zonasi.
Air hanya mengalir sekitar enam jam dalam sehari, mulai sekitar pukul 16.00 Wita.
Situasi itu membuat hujan menjadi sesuatu yang benar-benar dinantikan warga Pelaihari.
“Beberapa tempat sudah terguyur hujan. Pelaihari belum. Mudahan juga kebagian hujan,” ucap Rani, warga Pelaihari.
Harapan warga sederhana: hujan turun cukup merata dan mampu mengisi kembali sumber-sumber air yang selama kemarau terus menyusut.
Sebab, setelah berbulan-bulan menghadapi kemarau, hujan kini bukan hanya dinanti untuk membasahi jalan dan halaman rumah, tetapi juga untuk mengembalikan air yang menjadi kebutuhan paling dasar warga.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)