Rudy Ariffin mengembuskan napas terakhir di RS Amanah Medical Centre, Banjarmasin, Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 11.00 Wita, dalam usia 73 tahun.
Kepergian Rudy Ariffin bukan sekadar kabar wafatnya seorang mantan kepala daerah. Bagi banyak orang yang pernah berjumpa dan bersentuhan langsung dengannya, kepergian itu terasa seperti kehilangan sosok keluarga—seorang pemimpin yang dikenal mudah berbaur dan dekat dengan rakyat kecil.
Informasi yang dihimpun, kondisi kesehatan almarhum mulai terganggu setelah mengalami sesak napas sejak Sabtu (5/9/2026) subuh.
Duka pun mengalir dari berbagai penjuru Banua, termasuk Kabupaten Tanah Laut (Tala).
Bagi sebagian warga Tala, sosok Rudy Ariffin bukan hanya nama yang pernah memimpin Kalsel selama satu dekade.
Ia adalah sosok yang pernah hadir dalam ruang-ruang sederhana, berbincang tanpa jarak dengan masyarakat.
Salah satunya dirasakan Marliana SAg, tokoh perempuan di Tanah Laut.
Kenangan terakhir Marliana bersama Rudy Ariffin bahkan masih begitu dekat.
Belum lama ini, tepat pada 17 Agustus 2026, keduanya bertemu di sebuah warung ayam panggang tanpa tulang di Gambut.
Pertemuan itu bermula dari pesan sederhana.
Marliana menghubungi Rudy Ariffin untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Gayung bersambut. Keduanya kemudian berbincang melalui sambungan telepon.
Marliana sempat menanyakan keberadaan Rudy.
"Beliau bilang hendak ke Banjar. Akhirnya kami stop makan di Ayam Panggang, Gambut," kenang Marliana.
Tidak ada yang menyangka, pertemuan sederhana di sebuah warung makan itu ternyata menjadi salah satu kenangan terakhir Marliana bersama mantan Gubernur Kalsel tersebut.
Kini, percakapan dan kebersamaan singkat itu berubah menjadi kenangan yang begitu berharga.
Marliana mengaku sangat kehilangan dan terkejut mendengar kabar wafatnya Rudy Ariffin.
Menurutnya, Rudy adalah sosok pemimpin yang memiliki kedekatan luar biasa dengan masyarakat.
"Beliau itu sangat merakyat dan dekat dengan rakyat kecil," ujarnya.
Kesan serupa juga disampaikan warga Tala lainnya, Paman Amat.
Baginya, Rudy Ariffin merupakan gambaran pemimpin yang tidak membuat masyarakat merasa berjarak.
"Yang paling kami ingat bukan hanya beliau pernah menjadi gubernur. Tapi bagaimana beliau bisa hadir dan berbicara dengan masyarakat biasa tanpa membuat kami merasa kecil. Kehilangan beliau terasa begitu dalam," tuturnya.
Rudy Ariffin lahir pada 17 Agustus 1953, bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanggal kelahirannya itu seolah menjadi bagian tersendiri dari perjalanan hidupnya yang kemudian diabdikan untuk Banua.
Selama dua periode memimpin Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin dikenal sebagai birokrat dan politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Namanya juga melekat dalam perjalanan pemerintahan Kalsel selama satu dekade.
Namun, bagi masyarakat yang pernah berjumpa langsung dengannya, barangkali bukan jabatan yang paling lama dikenang.
Melainkan senyum, sapaan, percakapan sederhana, dan kesediaannya duduk bersama rakyat tanpa sekat.
Hari ini, sosok itu telah pergi.
Tetapi kenangan tentang kebaikan seorang pemimpin tidak serta-merta ikut berakhir. Ia tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan kehadirannya.
Dari sebuah meja makan sederhana di Gambut, misalnya, Marliana kini membawa pulang sebuah kenangan yang tidak akan pernah terulang.
Pertemuan yang saat itu mungkin terasa biasa, kini menjadi begitu berarti.
Selamat jalan, H Rudy Ariffin.
Semoga seluruh pengabdian, kebaikan, dan ketulusan almarhum selama hidup menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosa dan khilaf almarhum, menerima segala amal ibadahnya, melapangkan dan menerangi tempat peristirahatan terakhirnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan, termasuk anak almarhum yang pernah menjabat Wali Kota Banjarbaru, HM Aditya Mufti Ariffin, diberikan ketabahan dan kekuatan.
Banua berduka. Rakyat kehilangan. Namun kebaikan seorang pemimpin akan tetap hidup dalam kenangan mereka yang pernah disentuhnya.
Saat ini jenazah almarhum menjalani rangkaian prosesi penghormatan terakhir.
Setelah disalatkan di Masjid Al-Jihad Banjarmasin selepas Zuhur, jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Garuda Baru, Banjarbaru.
Selanjutnya, jenazah akan disalatkan kembali di Masjid Agung Al-Karomah Martapura selepas Asar, sebelum kemudian diantarkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Taman Makam Bahagia, Landasan Ulin, Banjarbaru.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)