Angka 41.174 tersebut memperlihatkan besarnya cakupan pelayanan yang berpotensi terganggu akibat penghentian sementara operasional dapur MBG di sejumlah kecamatan di Tanah Laut.
Berdasarkan data yang dihimpun, SPPG Tanah Laut Angsau 2 tercatat memiliki jumlah penerima manfaat terbanyak, yakni 3.743 orang. Disusul SPPG Pelaihari Sarang Halang sebanyak 3.683 orang dan SPPG Jorong Simpang Empat Sungai Baru sebanyak 3.603 orang.
Sementara itu, SPPG lainnya juga melayani ribuan penerima manfaat, dengan jumlah paling sedikit tercatat di SPPG Panyipatan Batu Mulya sebanyak 2.738 orang.
Secara keseluruhan, 13 SPPG yang mengalami suspend tersebut tersebar di wilayah Pelaihari, Bati-Bati, Jorong, Panyipatan, Kintap, Kurau, dan Batu Ampar.
Besarnya jumlah penerima manfaat yang tercatat dalam data tersebut membuat keberlanjutan distribusi MBG menjadi perhatian masyarakat. Terlebih, program ini telah menjadi bagian dari pelayanan pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di sekolah.
Sejumlah orangtua pelajar berharap persoalan administrasi yang menjadi penyebab penangguhan segera diselesaikan sehingga pelayanan MBG tidak terhenti terlalu lama.
Sejumlah wali murid di Tala menilai program MBG yang selama ini berjalan di Tanah Laut perlu dipertahankan keberlangsungannya.
Mereka berharap kendala yang dihadapi pengelola tidak sampai membuat pelayanan kepada penerima manfaat terhenti berkepanjangan.
Selama ini pelaksanaan MBG di wilayah Tanah Laut dinilai berjalan cukup lancar sehingga sangat disayangkan apabila harus terhenti akibat persoalan administrasi.
"Karena ini sudah berjalan, lanjutkan saja. Selama ini pengelolaan untuk wilayah Tanah Laut bagus, tidak ada masalah dari segi mana pun. Sayang bila sampai dihentikan," harap Rizki, salah seorang wali murid, warga Pelaihari.
Penghentian distribusi MBG berpotensi menambah kesibukan orang tua, terutama dalam memastikan kebutuhan makan anak selama berada di sekolah tetap terpenuhi.
Apabila makanan dari SPPG tidak lagi didistribusikan, orangtua harus menyiapkan alternatif, termasuk mengantarkan makanan langsung ke sekolah.
"Kalau ada kendala seperti ini, saya sebagai orangtua jadi repot. Harus mengantar makanan anak sekitar pukul 11.00 Wita," tuturnya.
Bagi para orangtua, keberadaan MBG selama ini turut membantu memenuhi kebutuhan makan anak ketika mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Karena itu, kepastian keberlanjutan program tersebut menjadi perhatian tersendiri.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan koordinasi dengan seluruh pengelola SPPG yang terkena penangguhan. Penyelesaian kelengkapan administrasi dan proses verifikasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) diharapkan dapat dipercepat.
Selain itu, kejelasan mengenai waktu operasional kembali 13 SPPG tersebut juga dinilai penting. Dengan demikian, sekolah dan orang tua dapat mengetahui kepastian pelayanan serta mempersiapkan langkah antisipasi selama distribusi MBG belum kembali normal.
Sebab, di balik penangguhan operasional 13 dapur MBG tersebut, terdapat 41.174 penerima manfaat yang selama ini masuk dalam cakupan pelayanan.
Persoalan administrasi pengelola diharapkan segera tuntas sehingga pelayanan pemenuhan gizi masyarakat dapat kembali berjalan sebagaimana mestinya.
(derapwaktu.com/banyulangit)
Komentar (0)