DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Bagi Sumiati (40), hujan bukan sekadar berkah yang turun dari langit. Di rumah kecilnya di kawasan Matah, RT 7B RW 02, wilayah Kelurahan Karang Taruna, Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala) , hujan justru menjadi ujian tersendiri bagi keluarganya.

Rumah kayu berukuran sekitar 4 x 5 meter yang ditempatinya bersama keluarga kian reyot dan compang-camping.

Sebagian kayunya mulai keropos dimakan rayap dan lapuk. Dinding rumah pun tidak sepenuhnya tertutup, sementara bagian atas rumah terdapat lubang yang membuat air hujan dapat langsung masuk ke dalam.

“Kalau hujan, air langsung masuk. Membasahi ruangan,” tutur Sumiati, Kamis (1/10/2026).

Saat ditemui di rumahnya, Sumiati menggendong anak bungsunya yang masih berusia sekitar 1,5 tahun. 

Di rumah sederhana tersebut, sebanyak enam orang yang menghuni. Selain Sumiati dan suaminya, Ali (46), terdapat empat anak yang tinggal bersama mereka. 

Dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar, masing-masing kelas 3 dan kelas 5.

Seorang anak lainnya berusia sekitar 19 tahun. Ia tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan kini ikut bekerja serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara anak sulung perempuan Sumiati sudah menikah dan tinggal bersama suami.

Di tengah keterbatasan tersebut, Ali menjadi tumpuan utama keluarga. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh serabutan, termasuk mengangkat material bahan bangunan ketika mendapatkan pekerjaan.

Penghasilan yang tidak menentu membuat sebagian besar pendapatan keluarga harus diprioritaskan untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari-hari.

“Untuk kebutuhan sehari-hari saja masih ngos-ngosan. Jadi belum ada uang untuk memperbaiki rumah,” ujar Sumiati.

Sebagai ibu rumah tangga, Sumiati mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Kondisi tersebut membuat keinginan memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan secara mandiri.

Ia hanya berharap ada perhatian dari pemerintah maupun masyarakat yang memiliki kemampuan untuk membantu.

Sumiati berharap rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarganya dapat memperoleh bantuan perbaikan, termasuk apabila ada program bedah rumah yang dapat menyasar tempat tinggalnya.

“Kalau ada yang membantu memperbaiki rumah, saya sangat senang dan gembira,” katanya.


Didatangi dan Dibawakan Sembako

Di tengah kondisi tersebut, Sumiati mendapat kunjungan Koordinator Penyuluh Agama Kementerian Agama Kabupaten Tanah Laut, Marliana, pada Kamis (1/10/2026) pagi. 

Marliana yang juga merupakan pengurus pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) dengan jabatan Wakil Bendahara II datang setelah memperoleh informasi mengenai kondisi kehidupan Sumiati dan keluarganya.

Kunjungan itu tidak sekadar melihat kondisi rumah. Marlyana juga membawa bantuan sembako untuk keluarga Sumiati.

Marliana mengatakan, setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi warga tersebut, dirinya merasa perlu melihat langsung keadaan di lapangan.

Menurutnya, kondisi rumah Sumiati memang membutuhkan perhatian karena sejumlah bagian bangunan telah mengalami kerusakan dan lapuk.

“Setelah mendapat informasi, saya langsung datang melihat kondisi Ibu Sumiati. Memang kondisinya sudah keropos dan layak mendapat perhatian untuk dibedah,” ujar Marliana.

Ia berharap kepedulian tidak berhenti pada bantuan sembako. Menurutnya, keluarga Sumiati membutuhkan tempat tinggal yang lebih layak agar dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih aman dan nyaman.

Marliana juga berharap ada dermawan yang tergerak membantu perbaikan rumah tersebut. 

Selain itu, ia berharap pemerintah daerah dapat melihat kondisi rumah Sumiati sehingga kemungkinan bantuan melalui program bedah rumah dapat dipertimbangkan.

“Semoga ada dermawan yang bisa membantu. Barangkali melalui program bedah rumah pemerintah daerah juga bisa mengakomodasi dan menyasar rumah Ibu Sumiati,” harapnya.


Memaknai Pancasila dari Rumah Warga

Kunjungan tersebut juga menjadi cara Marliana memaknai momentum Hari Kesaktian Pancasila dengan turun langsung melihat kondisi masyarakat.

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

Ia mengaitkan kepedulian tersebut dengan nilai kemanusiaan dalam sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Karena itu, momentum Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi warga, khususnya mereka yang masih menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Bagi Sumiati, perhatian sederhana berupa kunjungan dan sembako tersebut setidaknya memberikan sedikit ruang lega di tengah perjuangan keluarganya.

Namun di balik bantuan hari itu, masih ada harapan yang lebih besar: rumah kecil tempat enam jiwa berteduh tersebut suatu saat tidak lagi membiarkan air hujan masuk melalui celah-celah atap dan dinding yang lapuk.

Harapan itu kini bergantung pada kepedulian yang lebih luas—agar rumah yang selama ini menjadi tempat keluarga Sumiati bertahan dapat berubah menjadi tempat tinggal yang lebih layak, aman, dan manusiawi.

(derapwaktu.com/roy)