Di tangan Komunitas Pengelola Sampah Organik Sinergi (Kopasos), sampah tersebut diolah menjadi sumber pakan yang kemudian terhubung dengan budidaya ayam dan ikan.
Pola ini dikembangkan melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Larva BSF atau maggot yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun unggas.
Founder Kopasos, Heri Winardi, mengatakan komunitas tersebut mulai dikembangkan sejak 2021.
Awalnya, sejumlah warga berkumpul untuk mencari solusi terhadap persoalan sampah organik di lingkungan sekitar.
“Sampah organik kemudian kami manfaatkan sebagai media budidaya BSF yang menghasilkan maggot,” ujar Heri, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, maggot yang telah berusia sekitar 15 hingga 20 hari dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan unggas.
Dari sana, Kopasos mengembangkan konsep ekonomi sirkular dengan mengintegrasikan budidaya maggot, ayam, serta ikan lele dan nila.
Sampah menjadi bahan baku, maggot menjadi pakan, sementara ayam, telur dan ikan menjadi produk bernilai ekonomi.
Heri menjelaskan, pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya.
Karena itu, pemanfaatan maggot dari sampah organik diharapkan dapat menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari kegiatan budidaya.
“Komposisi paling besar dalam satu budidaya adalah biaya pakan. Kalau biaya pakan bisa dikurangi melalui budidaya maggot dari sampah organik, tentunya hasil usaha bisa lebih banyak dan keuntungannya meningkat,” jelasnya.
Kopasos tidak menjadikan penjualan maggot sebagai tujuan utama. Maggot lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan dalam rangkaian usaha budidaya yang mereka jalankan.
Dari rantai tersebut, produk akhirnya bukan sekadar maggot, melainkan ayam, telur, lele dan nila yang dapat dipasarkan dan memberikan nilai tambah.
Tidak Sekadar Mengurangi Sampah
Model yang dikembangkan Kopasos menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat diarahkan lebih jauh, dari sekadar mengurangi volume sampah menjadi bagian dari kegiatan produktif masyarakat.
Dalam pengembangannya, Kopasos mendapat pembinaan dan dukungan fasilitas dari DPKPLH, di antaranya sarana pengangkutan dan wadah penampungan sampah.
Sementara pembangunan serta pengembangan lokasi pengelolaan dilakukan secara swadaya komunitas, dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman dari berbagai narasumber terkait pengelolaan lingkungan.
Bagi warga Tanah Laut, pola seperti ini dinilai memiliki potensi apabila dapat terus dikembangkan secara konsisten.
Bustani, warga Tanah Laut yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan, menilai pengelolaan sampah berbasis ekonomi perlu diperluas agar manfaatnya tidak berhenti pada kebersihan lingkungan.
“Kalau sampah bisa dikelola menjadi sesuatu yang menghasilkan, tentu bagus. Harapannya semakin banyak warga yang bisa ikut dan mendapatkan manfaat ekonominya,” ujarnya.
Senada, Hidayah, warga Tanah Laut yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, berharap pengelolaan sampah organik seperti yang dilakukan Kopasos dapat menjadi contoh bagi lingkungan lain.
“Harapannya bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga bisa membuka kegiatan usaha bagi masyarakat. Kalau dikelola bersama, manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak warga,” katanya.
Dengan pola tersebut, persoalan sampah organik di Atu-Atu mulai ditempatkan dalam perspektif berbeda: bukan hanya bagaimana sampah dibuang, tetapi bagaimana sampah dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Pada Rabu (16/9/2026), Bupati Tala H Rahmat Trianto di sela aktivitas olahraganya (run), meluangkan waktu bertandang ke lokasi usaha Kopasos tersebut. Turut mendampingi Kepala DPRKPLH Gusti Dwi Erzandi Kasuma dan Asisten Ekobang Masturi.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)