Menghadirkan Rektor UIN Antasari Banjarmasin, Prof Dr H Mujiburrahman MA sebagai narasumber utama, kegiatan tersebut diikuti 100 peserta yang merupakan pimpinan pondok pesantren serta tenaga administrasi pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Tanah Laut.
Dalam pemaparannya, Prof Mujiburrahman menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa karena tidak hanya mencetak generasi yang menguasai ilmu agama.
Lebih dari itu juga harus mampu menjawab persoalan sosial kemasyarakatan.
"Pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berilmu dan berakhlak, tapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa," ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat empat peran utama pondok pesantren, yakni membentuk karakter dan akhlak mulia, meningkatkan kecerdasan intelektual serta spiritual, memberdayakan masyarakat dan lingkungan, sekaligus menjadi benteng moral serta perekat persatuan bangsa.
Selain Prof Mujiburrahman, pelatihan dan pendidikan (diklat) itu juga menghadirkan H Zairin Fanjani, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanah Laut.
Ia membawakan materi mengenai tata kelola administrasi pendidikan keagamaan pada pondok pesantren, sebagai bekal bagi pengelola pesantren dalam meningkatkan kualitas administrasi kelembagaan agar mampu mengikuti perkembangan regulasi dan tata kelola pendidikan modern.
Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Tanah Laut KH Ahmad Syarifuddin Noor menyampaikan materi bertajuk Sinergitas Majelis Ulama Indonesia dengan Pondok Pesantren.
Ia mengajak seluruh pesantren di Tanah Laut memperkuat kolaborasi dengan MUI dalam membangun pendidikan keagamaan yang berkualitas serta melahirkan generasi Islam yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Ketua panitia pelaksana yang juga Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kabupaten Tanah Laut, Ustadz Ahmad Bahruni, mengatakan pelatihan tersebut merupakan program besar MUI yang menargetkan menyentuh 600 ustadz dan ustadzah yang terbekali kemampuan mumpuni, sepanjang tahun 2026.
"Tahun ini kami menargetkan bisa mendidik dan melatih 600 ustadz dan ustadzah. Program ini dibagi menjadi enam angkatan, masing-masing sebanyak 100 peserta. Hari ini merupakan angkatan pertama," ujarnya.
Menurut Bahruni, angkatan pertama sengaja difokuskan kepada pimpinan pondok pesantren dan tenaga administrasi karena masih banyak pesantren, khususnya yang bercorak tradisional, yang memerlukan penguatan tata kelola administrasi.
"Kami ingin pondok pesantren di Tanah Laut mampu bersaing dari sisi administrasi. Ke depan, pesantren akan memiliki peran yang semakin besar dalam bidang pemerintahan, pendidikan, maupun pemberdayaan masyarakat. Karena itu administrasi yang baik menjadi kebutuhan," jelasnya.
Ia menerangkan pemilihan tiga narasumber disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Prof Mujiburrahman dipilih untuk memberikan wawasan mengenai peran sosial pesantren agar lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat. H Zairin Fanjani membekali peserta mengenai pengelolaan administrasi pendidikan keagamaan, sedangkan KH Ahmad Syarifuddin Noor memperkuat sinergi antara MUI dan pondok pesantren.
"Kami ingin hubungan MUI dengan seluruh pondok pesantren di Tanah Laut semakin erat sehingga bersama-sama mendorong kemajuan pendidikan keagamaan di daerah ini," katanya.
Bahruni menambahkan, pelatihan berikutnya akan dilaksanakan secara bertahap dengan sistem zonasi, meliputi wilayah Pelaihari, Bati-Bati, Jorong, Panyipatan dan kawasan lainnya.
Materi pelatihan juga akan disesuaikan dengan bidang keilmuan para peserta agar kompetensiustazdz dan ustadzah di Kabupaten Tanah Laut semakin meningkat secara merata.
Melalui program ini, MUI Kabupaten Tanah Laut berharap pondok pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat yang religius, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)