DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Desa Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan. 

Puluhan sumur gali di RT 8 dan RT 9 mengering, memaksa sekitar 60 kepala keluarga berjuang mencari air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Desa Damit Hulu, Edy Suhendra, mengatakan dua RT tersebut memang menjadi wilayah paling rentan saat kemarau karena belum memiliki sumur bor yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air cadangan.

"RT 8 dan RT 9 memang tidak ada sumur bornya. Ada satu sumur bor, tetapi tidak berfungsi," ujar Edy, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, sebagian besar sumur gali warga dengan kedalaman rata-rata sekitar delapan meter sudah tidak lagi mengeluarkan air. Akibatnya, warga terpaksa berjalan sekitar 200 meter menuju sungai untuk mandi dan mencuci.

Namun, sumber air alternatif itu kini juga mulai terancam.

"Sementara warga mengambil air di sungai, tetapi sekarang air sungainya juga sudah mulai habis," katanya.

Untuk kebutuhan air minum dan memasak, warga tidak memiliki pilihan selain membeli air bersih dari warga yang menjual menggunakan tandon. 

Harga satu tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter mencapai Rp75 ribu, sehingga menjadi beban tambahan bagi masyarakat selama kemarau berlangsung.

Ironisnya, kekeringan juga berdampak pada fasilitas pemerintahan. Sumur di kantor Desa Damit Hulu yang berada di RT 5 telah mengering sejak sekitar dua pekan lalu sehingga kantor desa pun harus membeli air bersih.

Edy menuturkan, pemerintah desa telah melaporkan secara lisan kepada Dinas PUPRP Tanah Laut terkait sumur bor yang tidak berfungsi. 

Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan perusahaan setempat. PT GMK dijadwalkan menyalurkan bantuan air bersih pada awal pekan depan sebagai langkah darurat.

Di sisi lain, kondisi tersebut mulai menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Laut.

Kepala Pelaksana BPBD Tanah Laut, Aspi Setia Rahman, mengatakan pihaknya segera menggelar rapat koordinasi bersama para camat untuk memetakan daerah yang mengalami krisis air bersih sekaligus menentukan langkah penanganan.

"Sementara terkait langkah penanganan perihal krisis air bersih akan coba kami rapatkan segera bersama para camat dulu," ujarnya.

Ia memastikan laporan mengenai mulai mengeringnya sumur warga akan segera disampaikan kepada pimpinan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

"Yang pasti ini segera ulun sampaikan ke pimpinan perihal perkembangan di lapangan," kata Aspi.

Meski belum memastikan kapan dropping air bersih dilakukan, BPBD kini mulai menginventarisasi wilayah terdampak sebagai langkah antisipasi apabila kemarau terus berlanjut.

Edy berharap hujan segera turun agar kondisi tidak semakin parah. Ia mengatakan jika kemarau berkepanjangan, kekeringan tahun ini berpotensi menyamai kondisi yang pernah terjadi pada 2023, ketika krisis air bersih meluas di sejumlah wilayah Desa Damit Hulu.

(derapwaktu.com/dw1)