DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Tanah Laut (Tala) membawa dampak tak biasa bagi warga Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau. 

Menyusutnya debit air di kawasan rawa dan persawahan menyebabkan ikan air tawar mati massal. Bangkai ikan yang membusuk menebarkan aroma menyengat.

Meski bukan hal baru, namun kondisi tersebut tetap tak nyaman dan mengganggu aktivitas masyarakat. Termasuk proses belajar mengajar di UPTD SD Negeri 1 Handil Negara.

Pantauan di lokasi menunjukkan bangkai ikan berserakan di sejumlah petak sawah yang mulai mengering. 

Sebagian besar telah membusuk dan dipenuhi belatung. Bau busuk sudah tercium sejak memasuki kawasan desa dan semakin menyengat di sekitar sekolah maupun permukiman warga.

Guru Pendidikan Jasmani UPTD SD Negeri 1 Handil Negara, Harkani, mengatakan aroma tidak sedap tersebut telah dirasakan sekitar sepekan terakhir.

"Selama munculnya bau ikan busuk ini, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Hanya saja memang sedikit terganggu karena aromanya cukup menyengat," ujarnya.

Menurut Harkani, para siswa tetap mengikuti pembelajaran tanpa mengenakan masker karena sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Sebaliknya, beberapa guru memilih menggunakan masker agar lebih nyaman saat mengajar.

Ia mengatakan berdasar pengalaman selama ini, biasanya bau tersebut akan  hilang setelah air di persawahan mengering sepenuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Handil Negara, Supian Sauri, membenarkan bahwa fenomena tersebut dipicu mengeringnya kawasan rawa dan persawahan akibat musim kemarau. 

Air yang terus menyusut membuat ikan-ikan liar terjebak di cekungan-cekungan kecil hingga akhirnya mati.

"Memang sekarang sudah banyak rawa dan sawah yang kering. Ikan-ikan tidak bisa keluar karena terjebak di cekungan air yang tersisa. Setelah air habis, ikan-ikan itu mati," jelasnya, Minggu (26/7/2026).

Menurut Supian, kejadian seperti ini  hampir selalu muncul setiap musim kemarau. 

Ia mengatakan ikan yang mati tersebut bukan merupakan ikan peliharaan milik warga, melainkan ikan liar yang hidup alami di rawa dan persawahan, seperti benih nila, gabus, papuyu, dan ikan siam.

Menurutnya, ikan-ikan berukuran besar umumnya sudah lebih dulu ditangkap warga ketika air mulai surut.

Sementara yang tersisa dan akhirnya membusuk, umumnya merupakan ikan-ikan kecil yang tidak mampu berpindah ke perairan yang lebih dalam.

Meski warga sudah terbiasa menghadapi kondisi serupa setiap musim kemarau, bau busuk dari bangkai ikan dalam jumlah besar tetap menjadi persoalan.

Mengapa ikan-ikan itu saat masih hidup tak diambil warga untuk dijual atau dikonsumsi? "Harga jualnya murah, cuma Rp 5.000, ini pun yang sudah disiang. Jadi, warga ogah mengambil," papar Supian.

Pada musim kemarau, jelasnya, ikan air tawar membanjiri pasaran karena warga di tiap desa banyak hasil tangkapan ikan yang mulai terjebak di cekungan.

Karena itu akhirnya ikan-ikan afkir (kecil) tak diambil karena harganya jeblok. Dengan kata lain, tak sebanding dengan effort yang dilakukan yakni memunguti di tengah terik matahari dan kemudian membersihkan serta menyianginya.

(derapwaktu.com/dw1)