SEKITAR dua puluh jam membelah Laut Jawa dengan kapal dari Banjarmasin menuju Surabaya, lalu dilanjutkan perjalanan bus menembus kemacetan menuju Jombang, memberikan waktu yang cukup panjang untuk merenungi sebuah paradoks sosial yang hangat.
Saya adalah orang Madura. Sejak dalam kandungan, identitas ke-NU-an saya sudah paripurna, belajar ngaji di TPA Muslimat NU, mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah, hingga amaliah keagamaan sehari-hari yang tak pernah lepas dari tradisi Nahdliyin.
Namun, takdir pengabdian organisatoris membawa saya ke alur yang unik. Saya tidak pernah aktif di struktur NU maupun banomnya; saya malah bertumbuh di Pelajar Islam Indonesia (PII) yang sarat tradisi modernis-kritis, dan kini aktif sebagai pengurus Pemuda Muhammadiyah.
Namun, melintasi jalur darat dan laut bersama rombongan sahabat-sahabat GP Ansor demi menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tidak melahirkan kecanggungan sedikit pun.
Di tingkat tapak, sekat-sekat ortodoksi ideologi yang kerap dipanaskan oleh para pengamat di media sosial mendadak cair dan selesai. Ada kehangatan kultural yang melampaui sekat-sekat administratif.
Lautan Seragam dan Ekonomi Akar Rumput
Jombang selama Muktamar adalah perayaan visual yang luar biasa. Hijau gagah Banser, keanggunan seragam Fatayat dan Muslimat, hingga spirit muda anak-anak IPNU, IPPNU, dan PMII tumpah ruah memenuhi sudut-sudut kota.
Mayoritas dari mereka bukanlah utusan resmi yang mengantongi surat tugas atau memiliki hak suara dalam pemilihan kepengurusan.
Mereka adalah apa yang sering disebut sebagai "penggembira", sebuah sebutan yang sangat pas karena mereka memang hadir dengan kegembiraan yang murni.
Mereka rela merogoh kocek pribadi untuk biaya transportasi, tidur lesehan di pendopo, ruang kelas sekolah dan pesantren, serta membeli pernak-pernik muktamar.
Dari sudut pandang sosiologi-ekonomi, fenomena ini adalah manifestasi dari apa yang disebut sosiolog Karl Polanyi sebagai Ekonomi Terikat (Embedded Economy), sebuah kondisi di mana aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri secara rasional-hitung-hitungan semata, melainkan melekat erat dalam jaringan sosial, budaya, dan keyakinan spiritual.
Pedagang pentol, penjual es tebu, perajin peci, hingga trotoar yang mendadak jadi pasar kaget panen raya, termasuk ojek becak motor juga mendadak ramai penumpang.
Spirit keagamaan dan rasa memiliki (sense of belonging) warga akar rumput NU bertransformasi menjadi bahan bakar yang menggerakkan piring nasi masyarakat bawah.
Muktamar 'Pinggir Jalan': Ruang Publik Organik
Namun, oleh-oleh paling berharga yang saya bawa pulang dari Jombang bukanlah sekadar pernak-pernik atau dinamika pasar kagetnya.
Hal yang paling memikat perhatian saya adalah riak-riak intelektual yang berdenyut di luar arena utama sidang muktamar.
Ketika ruang rapat ber-AC disibukkan oleh dinamika tata tertib dan kalkulasi politik pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum.
Para penggembira, akademisi, dan alumni ortom justru sibuk menggelar 'muktamar tandingan' yang sangat produktif.
Di warung-warung kopi, halaman pesantren, hingga aula lokal, bertebaran forum diskusi, sarasehan, dan reuni yang diinisiasi secara swadaya.
Lihat saja bagaimana alumni PB PMII menggelar maraton diskusi yang sangat taktis: mulai dari isu ketahanan pangan, bedah geopolitik gerakan Islam, reaktualisasi spirit Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang), hingga bedah buku karya alumni.
Di Ponpes Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas, Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Internasional menggelar Halaqoh Pendidikan Tinggi. Mereka merumuskan peran alumni global dalam mengerek mutu perguruan tinggi NU dan menguasai ekosistem industri halal dunia, sebuah manifestasi dari Transnational Social Fields.
Tak mau kalah, PP Fatayat NU menghentak melalui rangkaian FATAYAT NU CONNECT 2026 yang mengusung isu penguatan perlindungan perempuan dan anak, pemberdayaan ekonomi, hingga literasi media dan perfilman.
Di sudut lainnya, Majelis Alumni (MA) IPNU memanfaatkan momen muktamar sebagai ruang konsolidasi lintas generasi, menyambung rantai transfer modal sosial (social capital transfer) antara senior dan kader muda di daerah.
Belum lagi forum-forum lainnya yang tak terhitung dan tak kalah strategisnya. Mulai dari kehangatan forum nostalgia para senior ortom, rembug simpul kebudayaan para seniman Lesbumi di sudut warung, hingga sarasehan informal para kiai kampung yang membahas fenomena sosial di tingkat tapak.
Ruang-ruang diskusi non-formal ini tumbuh subur secara alami, tanpa sekat protokoler, mempertemukan gagasan dari berbagai latar belakang secara leluasa.
Filsuf Jurgen Habermas menyebut fenomena ini sebagai Ruang Publik (Public Sphere). Ketika forum resmi kerap kali tersedot oleh kalkulasi politik struktur, ruang publik organik inilah yang merawat masa depan jamaah.
Mereka mendiskusikan isi piring rakyat, posisi geopolitik umat, rantai pasok industri halal, hingga ruang aman bagi perempuan tanpa terbebani oleh urusan bagi-bagi kursi pengurus.
Dua Jantung Nahdlatul Ulama
Rangkaian forum swadaya ini membuktikan bahwa Muktamar NU selalu memiliki dua jantung yang berdenyut bersamaan.
Jantung pertama berada di forum resmi, tempat merumuskan arah kepemimpinan birokrasi Jam'iyah (organisasi).
Jantung kedua, yang sering kali lebih segar dan kenyal, berada di jalanan, warung kopi, dan aula pesantren, tempat merawat denyut nadi pemikiran Jama'ah (warga).
Jika struktur organisasi sibuk dengan siapa yang memegang kemudi, warga di pinggir jalan justru sibuk merumuskan ke mana kapal ini harus berlayar di tengah badai zaman.
Sebagai 'orang luar yang ada di dalam', seorang eks kader Pelajar Islam Indonesia dengan darah NU yang kental, saya pulang dari Jombang dengan rasa optimistis yang membuncah.
Kesetiaan warga bawah yang hadir tanpa diundang, kecerdasan alumni yang berdiskusi tanpa panggung resmi, serta ketulusan para pedagang kecil adalah oleh-oleh terbaik yang menegaskan satu hal: masa depan NU dan wajah Islam Indonesia yang sejati justru dirawat dengan sangat baik oleh para penggembira di pinggir jalan. (*)
CATATAN:
Seluruh isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya
Komentar (0)