BAYANGKAN sejenak, jika suatu hari Malaikat Israfil diliputi kegelisahan. Bukan karena tugas yang diembannya terlalu berat, melainkan karena menyaksikan manusia yang kian jauh dari fitrahnya. Dalam imajinasi ini, ia bergegas menghadap Allah SWT, bersujud seraya bertasbih, bertahmid, dan memohon izin untuk segera meniup sangkakala.

"Ya Rabb," demikian kira-kira isi kegelisahannya, "manusia telah melampaui batas. Mereka saling bermusuhan, saling menipu, saling menjatuhkan. Darah menjadi permainan, harta menjadi tujuan, kekuasaan diperebutkan tanpa batas, sementara kemuliaan hidup semakin mereka lupakan."

Dalam renungan ini, Allah SWT mengingatkan bahwa kelalaian manusia bukanlah sesuatu yang baru. Sejak awal penciptaannya, manusia telah diberi kebebasan memilih antara jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Karena itulah, kehidupan di dunia selalu menjadi ruang ujian, bukan tempat kesempurnaan.


Permainan yang Melupakan Hakikat

Manusia modern hidup di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, kemajuan itu sering kali tidak diiringi kedewasaan moral. Banyak orang larut dalam hiruk-pikuk kehidupan, mengejar popularitas, harta, jabatan, bahkan hiburan yang tak berujung.

Mereka bersorak, bertengkar, menangis, bahkan bermusuhan hanya karena sesuatu yang pada hakikatnya bersifat sementara. Segala sesuatu diperlakukan layaknya permainan besar, hingga tidak sedikit yang membawa-bawa nama Tuhan demi membenarkan kepentingannya sendiri.

Dalam kegelisahan itu, Israfil—dalam imajinasi penulis—bahkan mengeluhkan bagaimana kesucian nama Tuhan ikut diseret dalam berbagai peristiwa duniawi. Baginya, hal itu terasa begitu menyedihkan sehingga muncul keinginan untuk segera mengakhiri semua hiruk-pikuk kehidupan dengan tiupan sangkakala.


Harapan Itu Masih Ada

Namun jawaban Tuhan dalam renungan ini justru menghadirkan kesejukan.

Masih ada rumah-rumah sederhana yang dipenuhi dzikir. Masih ada lorong-lorong sempit yang bergema lantunan tahmid. Masih ada manusia yang bangun pada sepertiga malam terakhir, menangis memohon ampun atas dosa-dosanya. Masih ada hamba yang bersimpuh dalam sujud, berharap rahmat dan ridha-Nya.

Barangkali mereka tidak dikenal dunia. Nama mereka tidak menjadi berita utama. Mereka tidak menjadi pusat perhatian media sosial. Akan tetapi, justru merekalah yang menjadi alasan mengapa rahmat Allah masih tercurah ke bumi.

Selama masih ada satu hati yang tulus mengingat-Nya, harapan itu belum pernah benar-benar padam.


Dunia Boleh Ramai, Jangan Sampai Hati Ikut Lalai

Dunia memang akan terus dipenuhi sorak-sorai. Akan selalu ada peristiwa yang menyita perhatian manusia. Ada kemenangan yang dirayakan berlebihan, ada kekalahan yang ditangisi seolah hidup telah berakhir.

Semua itu bukanlah sesuatu yang salah selama tidak menggeser posisi Allah sebagai tujuan utama kehidupan.

Renungan ini mengingatkan bahwa ukuran kemajuan manusia bukan hanya kecanggihan teknologi, tingginya gedung, atau besarnya perhelatan dunia. Ukuran yang sesungguhnya adalah seberapa dekat hati manusia kepada Sang Pencipta.

Dalam akhir renungan ini, Israfil tetap bersujud. Ia terus bertakbir, bertasbih, bertahlil, dan mengagungkan nama Allah SWT. Keinginannya untuk segera meniup sangkakala tidak dikabulkan, bukan karena kegelisahannya tidak didengar, melainkan karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Selama masih ada hamba yang memohon ampun di tengah malam, selama masih ada lisan yang berdzikir, selama masih ada air mata yang jatuh dalam sujud, maka pintu rahmat-Nya tetap terbuka.

Mungkin, justru mereka yang tidak dikenal manusia itulah yang menjadi sebab dunia masih diberi kesempatan untuk terus berputar.

Sebab pada akhirnya, yang menjaga bumi tetap bertahan bukanlah riuh tepuk tangan manusia, melainkan doa-doa yang diam-diam naik ke langit.


Tiupan yang Masih Ditangguhkan

Dalam renungan imajinatif ini, Israfil tetap bersujud. Tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil tak pernah lepas dari lisannya. Ia masih memendam kegelisahan yang sama, tetapi ia juga memahami bahwa keputusan bukan berada di tangannya.

Allah SWT mendengar segala keluh kesahnya. Namun, janji-Nya kepada manusia tidak akan pernah diingkari. Sangkakala bukanlah sesuatu yang ditiup karena amarah atau kejengkelan, melainkan hanya pada waktu yang telah ditetapkan menurut kehendak-Nya.

Sebab, bukankah di tengah pekatnya malam masih ada hamba yang membasahi sajadah dengan air mata taubat? Bukankah sebelum fajar menyingsing masih ada suara azan Subuh yang menggetarkan hati orang-orang beriman? Bukankah di majelis-majelis sederhana masih terdengar lantunan ayat-ayat suci? Bukankah di masjid-masjid kecil yang nyaris lengang masih ada orang-orang yang berdiri, rukuk, dan sujud bersama, meski jumlah jamaahnya terkadang lebih sedikit daripada jumlah tiangnya?

Masih ada pula sekelompok kecil manusia yang tak pernah bosan bershalawat kepada Rasulullah SAW, menghidupkan sunnah, dan menyebarkan salam kepada sesama.

Suara-suara itu mungkin tak pernah menjadi berita utama. Ia tidak menguasai ruang publik sebagaimana hiruk-pikuk dunia. Namun, dzikir yang lirih itu terus naik ke langit, menjadi saksi bahwa bumi belum sepenuhnya kehilangan cahaya keimanan.

Karena itulah, dalam renungan ini, Israfil mengurungkan keinginannya. Selama masih ada yang mengingat Allah, tiupan sangkakala belum memiliki alasan untuk dipercepat.


Ketika Dunia Terlalu Sibuk oleh Permainan

Di sisi lain, bumi tetap bergemuruh oleh berbagai kesibukan manusia. Salah satunya adalah permainan dengan sebuah benda bulat yang mampu menyedot perhatian miliaran orang.

Dalam dialog imajinatif ini, Israfil kembali mengungkapkan kegelisahannya. Ia melihat bagaimana sebuah pertandingan dapat menyatukan sekaligus memecah manusia. Kemenangan dirayakan bak pesta besar, sedangkan kekalahan menjadi sumber kemarahan, permusuhan, bahkan keputusasaan. Tidak sedikit yang mempertaruhkan harta melalui perjudian, sementara sebagian lainnya kehilangan kendali atas emosi.

Renungan ini tentu bukan hendak menyalahkan olahraga. Sepak bola hanyalah sebuah permainan. Yang dipersoalkan adalah ketika manusia kehilangan ukuran, sehingga sesuatu yang semestinya menjadi hiburan berubah menjadi pusat kehidupan, bahkan mengalahkan perhatian terhadap nilai-nilai ketuhanan.

Dalam imajinasi itu, Allah bertanya kepada Israfil, "Masih adakah mereka mengingat-Ku ketika semua itu berlangsung?"

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan untuk dijawab oleh Israfil, melainkan untuk dijawab oleh setiap manusia yang membaca renungan ini.

Israfil kemudian menggambarkan kenyataan yang membuatnya semakin sedih. Para cendekiawan, ilmuwan, ustaz, ulama, hingga berbagai kalangan begitu antusias membahas pertandingan dan para pemainnya. Perdebatan berlangsung panjang, analisis disampaikan tanpa henti.


Namun, bagaimana dengan ayat-ayat Allah?

Dalam kegelisahan itu, Israfil menyaksikan bahwa ayat-ayat suci semakin sedikit dibaca, semakin jarang dikaji, lebih sedikit lagi dipahami, dan jauh lebih sedikit diamalkan. Bahkan, menurut renungan ini, tidak sedikit orang yang semestinya menjadi penuntun umat justru ikut hanyut dalam euforia yang sama.

Dalam dialog imajinatif tersebut, Allah kemudian memerintahkan Israfil menemui Rasulullah SAW untuk meminta pandangan.

Israfil pun mendatangi Nabi Muhammad SAW di Surga Firdaus. Dengan penuh hormat ia menyampaikan kegelisahannya tentang umat manusia yang semakin jauh dari ajaran Islam.

Rasulullah SAW mengakui bahwa sebagian umat memang telah banyak yang menzalimi dirinya sendiri dan lalai terhadap petunjuk Allah. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa perjalanan bumi belum mencapai akhirnya. Tanda-tanda kiamat pun belum sempurna.

Kegelisahan Israfil tetap sama. Ia melihat manusia menangis karena kekalahan sebuah pertandingan, berbangga secara berlebihan atas kemenangan, bahkan ada yang rela mengorbankan harta, persaudaraan, hingga nyawa hanya karena sebuah permainan.

Renungan ini sejatinya tidak sedang menghakimi sepak bola ataupun olahraga apa pun. Pesan yang ingin disampaikan jauh lebih dalam: jangan sampai sesuatu yang bersifat duniawi mengambil ruang yang semestinya menjadi milik Allah di dalam hati manusia.

Sebab, ketika hiburan berubah menjadi sesembahan, ketika permainan menjadi identitas hidup, dan ketika urusan dunia lebih menyita perhatian daripada ibadah, di situlah manusia sedang diuji oleh kelalaiannya sendiri.

Barangkali, pertanyaan yang patut kita renungkan bukanlah kapan sangkakala akan ditiup, melainkan apakah hari ini hati kita masih lebih sering bergetar oleh ayat-ayat Allah dibandingkan oleh sorak-sorai dunia.


Hikmah di Balik Sebuah Permainan

Dalam renungan imajinatif itu, Israfil masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab.

"Barangkali manusia diberi akal dan nafsu," katanya kepada Rasulullah SAW. "Namun apa hubungan semua itu dengan permainan sebuah benda bulat? Bola ditendang ke sana kemari, diperebutkan oleh dua puluh dua orang, lalu dielu-elukan seolah menjadi tujuan hidup. Bukankah akan lebih baik jika sangkakala segera ditiup agar manusia tidak semakin tenggelam dalam kesia-siaan dan kezaliman?"

Rasulullah SAW, dalam gambaran sastra ini, tidak langsung membenarkan kegelisahan Israfil.

Beliau justru memohon agar manusia masih diberi kesempatan.

"Sebelum bumi dilipat, gunung-gunung dihancurkan, lautan dipertemukan, langit dibelah, dan sangkakala ditiup, biarkan manusia menemukan hikmah di balik apa yang mereka jalani."


Israfil tetap bergeming.

"Berjuta-juta manusia menghabiskan usianya mengejar permainan itu, padahal hidup hanya sekali dan sangat singkat."

Rasulullah SAW kemudian memberikan sebuah renungan yang menjadi inti dari seluruh percakapan.

"Benar. Namun bukankah kehidupan manusia sendiri juga adalah sebuah permainan dan ujian? Yang terpenting bukanlah permainannya, melainkan pelajaran yang dipetik darinya."

Menurut renungan ini, mungkin saja bola hanyalah sebuah simbol. Ia mengajarkan bahwa hidup terus bergerak, berpindah, bergulir, kadang berada di atas, kadang terjatuh. Manusia boleh mengejarnya dengan semangat, tetapi jangan sampai melupakan tujuan akhirnya.

Setiap manusia memasuki kehidupan karena kehendak Allah. Setiap manusia juga akan mengakhiri permainannya ketika Allah menetapkan waktunya. Saat peluit kehidupan ditiup untuk terakhir kalinya, tidak ada lagi tepuk tangan penonton, tidak ada lagi sorak kemenangan, tidak ada lagi piala yang dibanggakan.


Yang Tersisa Hanyalah Amal.

Pada akhirnya, setiap insan akan kembali ke pangkuan bumi, berbaring di dalam liang lahat yang sunyi, menunggu hari ketika sangkakala benar-benar ditiup sesuai ketetapan Allah SWT.

Mendengar renungan itu, langit seakan kembali hening. Israfil menundukkan kepala dengan penuh takzim. Ia menutup kegelisahannya, meredam ketidaksabarannya, lalu mengurungkan niat untuk meminta percepatan tiupan sangkakala.

Sebab ia memahami satu hal yang tidak boleh dilupakan manusia: selama masih ada hamba yang bertobat, selama masih ada lisan yang berdzikir, selama masih ada hati yang berharap kepada Allah, maka rahmat-Nya akan selalu mendahului murka-Nya.

Dan barangkali, pertanyaan terbesar bukanlah kapan kiamat akan datang, melainkan sudahkah kita mempersiapkan diri sebelum peluit terakhir kehidupan benar-benar dibunyikan.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.(*)