DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Sawah warga Desa Tambak Karya, Kecamatan Kurau, Kabupaten Tanah Laut (Tala), menghadapi persoalan serius. Bukan hanya kekeringan akibat panas ekstrem, tetapi juga ancaman air asin yang masuk ke saluran irigasi.

Kondisi itu membuat sebagian petani harus menerima kenyataan pahit. Tanaman padi yang semestinya menjadi sumber penghasilan justru rusak sebelum dapat dipanen.

Kaur Umum Desa Tambak Karya, Kecamatan Kurau, Syarif Ahmad, Rabu (2/9/2026), mengatakan kerusakan pada sebagian sayap beton kanan dan kiri pintu air telah terjadi sejak banjir pada Januari 2026 lalu.

Kerusakan tersebut kemudian berdampak lebih besar saat musim kemarau. Ketika debit air tawar menurun, air asin lebih mudah masuk melalui bagian tanggul dan saluran yang rusak.

“Dampaknya air asin masuk di wilayah RT 3 yang berbatasan dengan RT 4. Tanaman padi unggul di sekitar lokasi ikut rusak,” ujarnya.

Menurut Syarif, pada kondisi normal produktivitas padi di kawasan tersebut bisa mencapai sekitar 10 hingga 15 blek per borong. Namun, kondisi tahun ini jauh berbeda.

Selain terdampak air asin, sebagian areal persawahan lainnya juga mengalami kekeringan pada kemarau ekstrem saat ini.

Bahkan, ada petani yang hanya memperoleh satu karung atau sekitar lima blek gabah dari sembilan borong lahan. Sebagai informasi, 1 hektare setara dengan 35 borong.

“Ini terdampak panas ekstrem yang sekarang sedang terjadi,” katanya.


Pemkab Bergerak, Pintu Air Darurat Dibangun

Persoalan tersebut mendapat respons Pemerintah Kabupaten Tanah Laut melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (DPUPRP), khususnya Bidang Sumber Daya Air (SDA).

Beberapa hari terakhir, alat berat dikerahkan untuk menata kembali saluran serta membangun pintu air baru di lokasi yang selama ini menjadi jalur masuknya air asin.

Pantauan di lokasi, pengerjaan masih berlangsung. Alat berat menggali dan menata aliran saluran yang kondisinya sangat surut. Material berupa besi tulangan, batu, pasir dan papan juga telah disiapkan.

Teknik Pengairan Ahli Muda Bidang SDA DPUPRP Tanah Laut, Ridho Sholihin, mengatakan keberadaan pintu air dibutuhkan masyarakat untuk mengendalikan aliran.

“Kalau ditutup total, saat musim penghujan akan dibuka kembali karena menjadi jalur pembuangan,” jelasnya.

Untuk tahap awal, pemerintah memilih konstruksi pintu air semi permanen menggunakan sekat balok. Langkah tersebut menjadi solusi darurat agar air asin tidak leluasa masuk ke areal persawahan.

“Untuk solusi darurat saja dengan konstruksi sederhana bangunan pintu semi permanen,” katanya.

Ridho menjelaskan, panjang saluran baru akan menyesuaikan kondisi di lapangan. Saluran tidak dibuat terlalu dalam untuk menghindari potensi air laut kembali masuk.

Sementara bagian tanggul yang hilang akan ditimbun dan diperbaiki, termasuk titik-titik yang masih mengalami kebocoran.

Menurutnya, pengerjaan pintu air diperkirakan paling lama sekitar satu bulan.

Pemerintah juga akan mengusulkan pembangunan konstruksi yang lebih permanen pada tahun mendatang.

“Pintu yang lama itu bukan aset DPUPRP, sehingga hanya dilakukan perbaikan sementara,” jelas Ridho.

Ia menambahkan, DPUPRP juga telah menyelesaikan rehabilitasi tanggul di Desa Bawah Layung pada sisi seberang sungai. Kegiatan tersebut merupakan program reguler 2026 berdasarkan usulan masyarakat dari tahun sebelumnya.

Petani Berharap Tak Lagi Kehilangan Panen

Aparatur Desa Tambak Karya, Ahmad Rusbandi, mengatakan masuknya air laut melalui irigasi lama telah dirasakan warga sejak Juni lalu.

Akibatnya, hasil panen menurun drastis. Sebagian tanaman memang masih bisa dipanen, tetapi lebih banyak yang gagal, terutama padi lokal Siam Arjuna.

“Selain kemarau, masuknya air laut membuat total tidak dapat dipanen, terutama varietas lokal Siam Arjuna seluas kurang lebih 10 hektare,” ungkapnya.

Rusbandi menyambut baik langkah Pemkab Tanah Laut yang mulai memperbaiki tanggul dan membangun pintu air baru.

Ia berharap pembangunan tersebut tidak berhenti sebagai penanganan sementara, tetapi menjadi solusi agar petani tidak kembali menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.

“Terima kasih Pemkab Tala yang sudah melakukan perbaikan tanggul baru. Semoga dengan tanggul baru ini distribusi air ke sawah lancar dan dapat membendung air laut saat kemarau,” harapnya.

Bagi petani Tambak Karya, perbaikan pintu air bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Mereka berharap pintu tersebut menjadi pengaman sawah dari air asin sekaligus membuka kembali peluang mendapatkan hasil panen yang layak.

Pasalnya, ketika air tawar bisa dikendalikan dan air asin tertahan, harapan petani untuk kembali melihat sawah menghijau masih terbuka.

(derapwaktu.com/roy)