DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, termasuk di wilayah Kabupaten Tanah Laut (Tala), 

tak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga. 

Di Desa Pandahan, Kecamatan Bati-Bati, dampaknya mulai terasa pada kesehatan masyarakat, terutama keluhan batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga gangguan pernapasan.

Kondisi tersebut mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Selatan bersama IDI Cabang Tanah Laut, Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) Kalsel, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalsel dan FKIK ULM serta Dinas Kesehatan (Dinkes) Tala turun langsung memberikan pelayanan kesehatan.

Bakti Sosial Peduli Dampak Kabut Asap digelar di MIS Darul Aman, Desa Pandahan, Selasa (1/9/2026), bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Bati-Bati dan Pemerintah Desa Pandahan.

Sebanyak 209 pasien yang terdiri atas warga dan pelajar mendapatkan pelayanan medis dalam kegiatan tersebut.

Tak sekadar pengobatan, tim kesehatan juga memberikan penyuluhan mengenai bahaya paparan kabut asap, membagikan masker gratis serta mengedukasi masyarakat mengenai langkah pencegahan gangguan kesehatan selama kualitas udara memburuk.

Ketua IDI Wilayah Kalimantan Selatan, dr Sigit Prasetia Kurniawan SpPD K-HOM FINASIM, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini terhadap berbagai keluhan kesehatan yang dapat muncul maupun memburuk akibat paparan asap karhutla.

Menurutnya, gangguan saluran pernapasan menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai masyarakat.

“Edukasi diberikan agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan, membatasi paparan asap, serta segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata atau gangguan kesehatan lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, kehadiran dokter di tengah masyarakat bukan hanya memberikan pengobatan, tetapi juga memastikan warga memperoleh informasi kesehatan yang tepat ketika menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan krisis kesehatan.

“IDI berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama dalam situasi yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan,” tegasnya.


Pelajar Ikut Terdampak

Dampak kabut asap juga dirasakan lingkungan sekolah. Muhammad Khairil Wahyu, salah seorang guru di lokasi kegiatan, mengatakan sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan sehingga harus meninggalkan aktivitas belajar.

“Selama musibah kabut asap ini, banyak sekali siswa yang sakit batuk pilek dan terpaksa izin tidak masuk sekolah,” katanya.

Menurut Khairil, pengobatan massal yang digelar langsung di sekolah menjadi langkah yang sangat membantu, terutama bagi siswa dan warga yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan.

“Alhamdulillah, kami sangat senang dan bersyukur kegiatan pengobatan massal ini bisa berlangsung langsung di sekolah kami,” ujarnya.


Warga Tak Perlu Jauh Berobat

Salbianah (33), warga Desa Pandahan, menjadi salah satu pasien yang memanfaatkan layanan kesehatan gratis tersebut. Ia mengaku mengalami batuk, pilek dan sakit tenggorokan selama kabut asap.

“Selama kabut asap ini saya sering mengeluh batuk, pilek dan sakit tenggorokan. Saya sangat senang ada kegiatan bakti sosial di Desa Pandahan, sehingga bisa ikut berobat gratis bersama anak saya,” tuturnya.

Bagi warga, kehadiran layanan kesehatan langsung di tengah permukiman menjadi penting karena mereka tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pemeriksaan.

Sinergi IDI, organisasi dokter spesialis, FKIK ULM, pemerintah dan sekolah diharapkan tidak berhenti pada pengobatan massal. Edukasi dan pencegahan dinilai sama pentingnya untuk mengurangi risiko kesehatan selama kabut asap karhutla masih mengancam.

Kabut asap mungkin perlahan hilang ketika karhutla padam. Namun, bagi warga Bati-Bati, menjaga kesehatan selama asap masih menyelimuti menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

(derapwaktu.com/roy)