DERAPWAKTU.COM, JAKARTA — Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 menyisakan pertanyaan besar di ruang publik.

Bukan hanya soal siapa penggantinya, tetapi juga apa yang sebenarnya terjadi di balik pergantian mendadak tersebut. 

Purbaya digantikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Pemerintah tidak mengumumkan satu alasan spesifik yang secara terbuka menyebut bahwa pencopotan tersebut dipicu oleh satu pernyataan atau satu kebijakan tertentu.

Namun, setelah Purbaya dicopot, sejumlah pernyataannya selama menjabat kembali bermunculan.

Catatan derapwaktu, Selasa (15/9/2026), salah satu yang paling menarik perhatian publik adalah pernyataan Purbaya mengenai Pajak dan Bea Cukai—dua institusi yang menjadi tulang punggung penerimaan negara.

Dalam sebuah perbincangan yang kemudian kembali viral, Purbaya mengungkap bahwa pada masa sebelumnya aparat penegak hukum disebut harus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan ketika hendak menangani persoalan di lingkungan Pajak maupun Bea Cukai.

Pernyataan tersebut kemudian dipahami publik sebagai gambaran bahwa dua institusi tersebut pernah berada dalam posisi yang tidak mudah disentuh dari luar.

Yang membuatnya semakin menarik, Purbaya tidak sekadar berbicara mengenai kondisi internal kementeriannya. Ia tampil seolah membuka sesuatu yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka.


Purbaya dan Keberanian Membuka Sektor Sensitif

Sikap Purbaya terhadap Pajak dan Bea Cukai sebenarnya bukan baru muncul dalam satu podcast.

Sejak awal menjabat, ia beberapa kali mendorong pembenahan sektor tersebut.

Purbaya bahkan membuka kanal pengaduan langsung “Lapor Pak Purbaya” bagi masyarakat yang memiliki persoalan terkait pajak dan Bea Cukai. Laporan tersebut, menurut Purbaya, akan divalidasi dan ditindaklanjuti oleh tim khusus Kementerian Keuangan.

Langkah itu menunjukkan bahwa Purbaya berusaha membawa persoalan yang selama ini berada di balik meja birokrasi menjadi lebih terbuka kepada publik.

Dalam sejumlah kasus, ia juga tidak menutup kemungkinan adanya persoalan internal.

Saat menyoroti kasus di lingkungan Bea Cukai, Purbaya bahkan menyebut kemungkinan keterlibatan pegawai internal dan mengatakan akan menelusuri pihak-pihak yang terlibat.

Dengan demikian, pernyataan Purbaya tentang Pajak dan Bea Cukai tidak berdiri sendiri.

Ada rangkaian sikap yang memperlihatkan upayanya untuk membuka pengawasan, menerima pengaduan masyarakat, memeriksa internal, hingga mendorong penegakan hukum.

Di titik inilah pernyataan “berani membuka” tersebut menjadi menarik ketika dibaca setelah dirinya dicopot.

Tetapi sekali lagi, belum ada bukti resmi bahwa keterbukaan Purbaya mengenai Pajak dan Bea Cukai menjadi alasan Presiden mencopotnya.


Lalu Muncul Persoalan Whoosh

Belum selesai publik membicarakan gaya keterbukaan Purbaya, persoalan lain muncul dan kembali menempatkannya di tengah sorotan.

Kali ini menyangkut utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Pada 8 September 2026, hanya beberapa hari sebelum pencopotannya, Purbaya mengungkap bahwa utang Whoosh telah direstrukturisasi dengan tenor pembayaran hingga 80 tahun.

Cicilannya diperkirakan sekitar Rp1 triliun per tahun, meski besarannya dapat berbeda dari tahun ke tahun. Pengelolaan kewajiban tersebut juga dijadwalkan beralih dari Danantara ke Kementerian Keuangan pada 15 September 2026 melalui entitas yang berada di bawah Kemenkeu.

Yang kemudian membuat pernyataan itu viral bukan hanya angka 80 tahun. Tapi kalimat Purbaya: "Iya kita sudah mati, santai saja.”

Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia menjelaskan bahwa panjangnya tenor membuat cicilan tahunan relatif lebih ringan.

Bagi sebagian publik, pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai seloroh untuk menggambarkan bahwa beban pembayaran berlangsung sangat panjang.

Namun bagi pihak lain, kalimat tersebut justru sensitif karena berbicara mengenai utang negara yang masa pembayarannya mencapai beberapa generasi.


Ironi waktunya

Yang kemudian membuat publik semakin bertanya adalah waktunya.

Purbaya mengungkap persoalan Whoosh pada 8 September.

Enam hari kemudian, pada 14 September, ia dicopot dari jabatan Menteri Keuangan.

Pergantian tersebut terjadi ketika Purbaya masih menjalankan agenda kedinasannya. Setelah itu, Suahasil Nazara ditunjuk sebagai Menteri Keuangan baru.

Rentetan waktu tersebut membuat berbagai potongan pernyataan Purbaya kembali dicari dan dikaitkan oleh publik.

Mulai dari pernyataan mengenai Pajak dan Bea Cukai yang disebut selama ini tidak mudah disentuh, keberaniannya membuka persoalan internal, gaya komunikasinya yang blak-blakan, hingga keterangannya mengenai utang Whoosh yang akan dibayar hingga puluhan tahun.

Namun, penting untuk membedakan antara kronologi dan sebab-akibat.

Bahwa pernyataan-pernyataan tersebut terjadi sebelum pencopotan adalah fakta.

Tetapi bahwa salah satunya menjadi penyebab Purbaya dicopot, belum ada konfirmasi resmi yang membuktikannya.


Bukan sekadar soal satu kalimat

Jika dilihat lebih luas, persoalan Purbaya bukan hanya tentang satu kalimat “kita sudah mati, santai saja”.

Purbaya selama menjabat tampil sebagai Menteri Keuangan dengan gaya yang relatif terbuka dan terkadang kontroversial.

Ia berbicara mengenai pembenahan Pajak dan Bea Cukai.

Ia membuka kanal pengaduan langsung kepada masyarakat.

Ia menyinggung kemungkinan persoalan internal di Bea Cukai.

Ia bicara mengenai kebocoran penerimaan dan praktik under-invoicing. Bahkan dalam isu komoditas seperti batu bara dan nikel, 

Purbaya pernah menjelaskan bahwa ketiadaan bea keluar dapat membuka celah under-invoicing dan penyelundupan.

Kemudian, ia membuka kepada publik skema restrukturisasi utang Whoosh.

Semua itu membuat sosok Purbaya bukan sekadar pejabat fiskal yang bekerja di balik meja, tetapi pejabat yang sering membawa persoalan internal dan kebijakan sensitif ke ruang publik.

Dan setelah dirinya dicopot, seluruh pernyataan tersebut kembali mendapatkan perhatian.


Pertanyaan Publik Kini Bergeser

Pergantian Menteri Keuangan tentu merupakan kewenangan Presiden.

Namun, pencopotan Purbaya membuka ruang pertanyaan yang lebih besar:

Beberapa kalimat di tengah masyarakat; Apakah pergantian ini semata-mata evaluasi kinerja dan arah kebijakan fiskal? Apakah gaya komunikasi Purbaya menjadi persoalan tersendiri?

Ataukah ada dinamika lain di balik layar yang belum disampaikan kepada publik?

Sejumlah analisis internasional menempatkan pergantian Purbaya dalam konteks kekhawatiran mengenai kredibilitas fiskal, ketidakpastian kebijakan dan kepercayaan investor. 

Reuters melaporkan bahwa Suahasil dipandang sebagai figur yang lebih teknokratis dan diharapkan dapat memperkuat kredibilitas pengelolaan fiskal.

Namun, pemerintah belum secara terbuka mengatakan bahwa pernyataan Purbaya mengenai Pajak, Bea Cukai atau Whoosh merupakan alasan langsung pencopotannya.


Dari “tak tersentuh” hingga utang lintas generasi

Sejumlah pihak menyebut pada akhirnya, ada satu benang merah yang membuat seluruh persoalan tersebut menarik untuk dicermati.

Pajak dan Bea Cukai berbicara tentang uang yang masuk ke negara.

Whoosh berbicara tentang kewajiban yang harus dibayar negara.

Dan, Menteri Keuangan berada tepat di tengah dua persoalan tersebut: menjaga penerimaan sekaligus mengelola beban keuangan negara.

Karena itu, ketika seorang Menteri Keuangan mengatakan ada institusi penerimaan negara yang sebelumnya seolah sulit disentuh, kemudian membuka persoalan internalnya, lalu beberapa hari sebelum dicopot mengungkap utang proyek strategis dengan tenor hingga 80 tahun, publik wajar mempertanyakan konteks keseluruhan peristiwa tersebut.

Tetapi pertanyaan publik tidak boleh berubah menjadi kesimpulan tanpa bukti.

Sampai ada penjelasan resmi, pencopotan Purbaya tetap merupakan fakta, sementara dugaan bahwa pernyataannya tentang Pajak, Bea Cukai atau Whoosh menjadi penyebab pencopotan masih berada pada wilayah spekulasi.

"Justru karena itulah, publik kini menunggu satu hal: penjelasan yang terang mengenai alasan sebenarnya Presiden Prabowo mengganti Menteri Keuangannya," ucap Rahman, warga Kabupaten Tanah Laut.

(derapwaktu.com/roy