Pemerintah Kabupaten Tanah Laut mengerjakan normalisasi sungai tersebut melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan.
Bupati Tanah Laut, H Rahmat Trianto, bahkan turun langsung meninjau pekerjaan itu pada Senin (2/11/2026), guna memastikan pelaksanaannya berjalan sesuai rencana.
Pekerjaan ini bukan berskala kecil. Ada dua titik penanganan utama yang menjadi sasaran normalisasi.
Pertama, pengerukan dari muara sungai hingga ke laut sepanjang 800 meter, dengan lebar 32 meter dan kedalaman 3 meter.
Kedua, normalisasi dari tanggul Daerah Aliran Sungai (DAS) Maluka sepanjang 5.140 meter.
Dengan demikian, total panjang penanganan yang dilakukan mencapai sekitar 5,94 kilometer.
Berdasarkan jadwal pekerjaan, normalisasi berlangsung sejak 29 Juli hingga 25 Desember 2026.
Pengerukan di kawasan muara diharapkan dapat memperlancar aliran air sekaligus mendukung aktivitas perhubungan kapal.
Sementara itu, penanganan di sepanjang DAS Maluka diarahkan untuk meningkatkan fungsi sungai dan tanggul dalam menahan air laut, sehingga dapat membantu mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut.
Bagi kalangan masyarakat, ukuran keberhasilan pekerjaan tersebut tidak hanya dilihat dari panjang sungai yang dikeruk atau besarnya volume pekerjaan.
Dampak nyata ketika debit air meningkat, hujan turun dalam waktu lama, maupun saat air laut pasang menjadi hal yang lebih dinantikan.
Sejumlah warga berharap normalisasi tersebut benar-benar mampu mengurangi potensi genangan dan banjir yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Dua warga Tanah Laut, misalnya, menyampaikan harapan agar pekerjaan tersebut tidak berhenti pada pengerukan semata.
"Setelah dinormalisasi, mudahan aliran air menjadi lebih lancar. Mudahan nanti ketika hujan deras atau air laut pasang, persoalan genangan dan banjir tak berulang lagi," ucap seorang warga, Ahmad.
Warga lainnya berharap hasil normalisasi dapat dipelihara secara berkelanjutan agar fungsi sungai tetap terjaga.
"Kalau sudah dikeruk, harapannya jangan dibiarkan begitu saja. Perlu ada pemeliharaan dan pengawasan supaya sungai tidak kembali mengalami pendangkalan," cetusnya.
Normalisasi Sungai Rasau pun menjadi bagian dari upaya penanganan infrastruktur sumber daya air di Tanah Laut.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pekerjaan tersebut memberikan manfaat jangka panjang. Terutama bagi masyarakat yang beraktivitas dan tinggal di sekitar kawasan sungai.
Pasalnya, bagi warga yang berhadapan langsung dengan persoalan banjir, keberhasilan pembangunan pada akhirnya bukan semata-mata soal proyek selesai tepat waktu, melainkan seberapa jauh risiko banjir dapat ditekan dan aktivitas masyarakat menjadi lebih aman.
(derapwaktu.com/banyulangit)
Komentar (0)