DERAPWAKTU.COM, TIONGKOK  – Kemampuan mahasiswa pendidikan vokasi tidak cukup hanya diukur dari keterampilan praktik di bengkel. 

Mereka juga dituntut mampu menghasilkan produk teknologi, menjelaskan cara kerjanya, hingga mempertanggungjawabkan inovasi di hadapan juri.

Pola pembinaan seperti itu menjadi salah satu hal yang dipelajari delegasi Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) saat meninjau The 4th Vocational Skills Competition of Guangxi Zhuang Autonomous Region di Nanning International Convention and Exhibition Center, Nanning, Tiongkok, Minggu (1/11/2026).

Dalam kompetisi keterampilan vokasi tingkat Provinsi Guangxi tersebut, puluhan institusi pendidikan vokasi menampilkan berbagai karya unggulan di stan pameran. 

Produk dan demonstrasi keterampilan yang ditampilkan memberikan gambaran tentang bagaimana pembelajaran praktik dikembangkan menjadi kemampuan menghasilkan teknologi terapan.

Delegasi Politala, yang dalam lawatan tersebut bersama delegasi Politeknik Negeri Subang (Polsub), mengamati langsung penyelenggaraan kompetisi, sistem penjurian, penataan stan, hingga kualitas karya yang dihasilkan peserta.

Salah satu yang menarik perhatian adalah demonstrasi robot cerdas, pemindaian tiga dimensi untuk kebutuhan pemesinan, serta menggambar digital di stan Guangxi Technician College of Machinery and Electricity.

Delegasi juga meninjau kendaraan off-road bertenaga listrik hasil rakitan mahasiswa. Tidak hanya melihat produk akhirnya, mereka turut mendapatkan penjelasan mengenai sistem kelistrikan dan konstruksi rangka kendaraan tersebut.

Wakil Direktur Bidang Akademik Politala Dr Fatimah SSi MP menilai model kompetisi tersebut memperlihatkan keterhubungan antara kurikulum, praktik pembelajaran, dan pengujian kemampuan mahasiswa.

Menurutnya, keterampilan yang diperoleh mahasiswa selama pembelajaran di bengkel tidak berhenti sebagai materi praktik, tetapi diuji melalui kompetisi yang menuntut kemampuan teknis sekaligus komunikasi.

"Apa yang dipelajari mahasiswa di bengkel langsung diuji di arena kompetisi. Kurikulum, praktik, dan lomba berjalan dalam satu sistem yang terintegrasi. Pola seperti ini yang ingin kami perkuat di Politala," ujarnya kepada derapwaktu, Senin (2/11/2026).

Fatimah menambahkan, kompetisi juga dapat menjadi tolok ukur bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri.

Melalui hasil karya yang dipamerkan, kemampuan mahasiswa dapat dilihat secara lebih konkret. Kampus pun memiliki bahan evaluasi untuk memperbarui fasilitas praktik maupun materi pembelajaran.

"Kompetisi menjadi cermin. Dari situ terlihat apakah kurikulum kita sudah menjawab kebutuhan industri atau belum," katanya.

Bidang yang ditampilkan dalam kompetisi tersebut, seperti otomasi, permesinan, dan teknologi kendaraan listrik, juga memiliki keterkaitan dengan pengembangan program studi di Politala.

Karena itu, Fatimah berharap hasil pengamatan di Nanning dapat menjadi referensi bagi dosen untuk memperkaya materi pembelajaran sekaligus mengembangkan proyek teknologi terapan bersama mahasiswa.


Politala Ingin Perkuat Kompetisi Internal

Selain aspek akademik dan teknologi, delegasi Politala juga mencermati bagaimana kompetisi dikelola hingga peserta mampu menampilkan karya secara profesional.

Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Politala Rina Pebriana SE  MComm mengatakan peninjauan tersebut memberikan gambaran mengenai standar penyelenggaraan kompetisi vokasi.

Mulai dari penataan stan, alur penjurian, kesiapan peserta, hingga kemampuan mempresentasikan hasil karya.

Menurut Rina, potensi mahasiswa perlu didukung ekosistem pembinaan yang terarah agar mereka memiliki kesiapan ketika mengikuti kompetisi di tingkat lebih tinggi.

"Mahasiswa kita memiliki potensi yang besar. Yang perlu kami siapkan adalah ekosistemnya: pembinaan yang terarah, kompetisi internal yang bermutu, dan keberanian untuk tampil di tingkat nasional hingga internasional," ungkapnya.

Hasil pengamatan tersebut rencananya menjadi bahan evaluasi program kemahasiswaan Politala, terutama dalam pengembangan kompetisi internal dan pameran karya inovasi di lingkungan kampus.

Rina ingin ajang kompetisi di internal Politala tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang pembinaan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan teknis dan kesiapan menghadapi penilaian profesional.

"Kami ingin mahasiswa yang mewakili Politala di kompetisi nasional sudah terlatih sejak di kampus. Mereka harus tahu cara menyiapkan karya, menata stan, hingga menjawab pertanyaan juri. Semua itu dapat dibangun melalui ajang internal yang dikelola secara serius," jelasnya.

Dalam peninjauan tersebut, delegasi juga berdialog langsung dengan peserta untuk menggali proses perancangan dan cara kerja produk yang dipamerkan. 

Penggunaan alat penerjemah otomatis oleh sejumlah peserta turut membantu kelancaran komunikasi dalam menjelaskan spesifikasi teknis karya.

Kunjungan ke arena kompetisi vokasi Guangxi ini merupakan bagian dari rangkaian lawatan internasional Politala di Daerah Otonom Guangxi Zhuang. 

Agenda tersebut sekaligus melengkapi upaya penjajakan kerja sama kelembagaan dengan perguruan tinggi vokasi setempat, termasuk membuka peluang pertukaran dosen dan mahasiswa.

Bagi Politala, pengalaman di Nanning diharapkan tidak berhenti sebagai referensi kunjungan internasional. 

Hasil pengamatan tersebut diarahkan menjadi bahan pengembangan pembelajaran praktik, pembinaan prestasi, serta kompetisi inovasi mahasiswa agar memiliki kesiapan bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

(derapwaktu.com/banyulangit)