DERAPWAKTU.COMPELAIHARI — Hari pertama menjadi mahasiswa bukan sekadar seremoni memasuki lingkungan perguruan tinggi. Di titik itulah identitas baru mulai dibentuk—bukan hanya melalui prestasi akademik, tetapi juga melalui karakter, aktivitas organisasi, cara berkomunikasi, hingga jejak yang ditinggalkan di ruang digital.

Pesan itulah yang mengemuka ketika Ketua TP PKK Kabupaten Tanah Laut (Tala) Hj Dian Rahmat Trianto berbicara di hadapan mahasiswa dalam Seminar Perlindungan Perempuan dan Anak serta Personal Branding Positif bertema “Membangun Generasi Muda Cerdas, Berintegritas, Bebas Kekerasan di Era Digital” di Aula Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala), Rabu (19/8/2026).

Angle tersebut menjadi semakin relevan di tengah momentum masuknya generasi baru ke Politala. Kampus vokasi negeri di Tanah Laut itu baru saja menerima 729 mahasiswa baru dalam PKKMB 2026, yang berasal dari berbagai jalur penerimaan dan akan menempuh pendidikan pada 10 program studi.

Dengan demikian, pesan Hj Dian bukan hanya berbicara tentang bagaimana mahasiswa membangun citra diri, tetapi bagaimana mereka mulai membangun rekam reputasi sejak berada di bangku kuliah.

Menurut Hj Dian, mahasiswa saat ini hidup dalam lingkungan yang menuntut kemampuan beradaptasi dengan perubahan cepat.

Kompetensi akademik atau hard skill tetap penting, tetapi harus dilengkapi soft skill, karakter, pengalaman, etika dan kemampuan membangun relasi.

Tantangan tersebut semakin kompleks dalam dunia kerja yang bergerak dalam situasi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).

“Ketika kita fokus dengan apa yang kita cita-citakan, kemudian disiplin melaksanakan setiap tahapannya, itu tidak akan mengkhianati hasil,” ujarnya.

Hj Dian mendorong mahasiswa tidak menjadikan kehidupan kampus semata-mata sebagai ruang mengejar indeks prestasi. 

Organisasi kemahasiswaan, kegiatan sosial, kepanitiaan, kompetisi maupun berbagai aktivitas produktif, menurutnya, merupakan laboratorium untuk membangun kapasitas diri.

Pesan itu sejalan dengan desain PKKMB Politala 2026 yang tidak berhenti pada pengenalan lingkungan kampus. Mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan BEM, DPM, HIMA dan UKM sebagai ruang pengembangan kepemimpinan, kreativitas, minat, bakat serta pengalaman berorganisasi. 

Mereka juga mendapat pengenalan layanan pengembangan karier dan kewirausahaan.

Bahkan, Politala menempatkan pengembangan karakter sebagai bagian penting dalam pembentukan mahasiswa. Standar mutu kampus tersebut mencantumkan integritas akademik serta upaya menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang bebas dari kekerasan seksual, perundungan dan intoleransi sebagai bagian dari materi PKKMB.

Dalam konteks itulah Dian mengingatkan mahasiswa agar memahami personal branding secara lebih substansial. 

Personal branding, katanya, bukan sekadar bagaimana seseorang terlihat baik di media sosial, melainkan bagaimana kompetensi dan karakter seseorang terbaca secara konsisten melalui perilakunya.

“Postingan masa lalu bisa berpengaruh besar terhadap karier profesional di masa depan. Karena itu, bangunlah personal branding yang positif dan jadilah pribadi yang bernilai,” pesannya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa terhadap berbagai risiko di ruang digital, termasuk cyberbullying, penipuan digital, kekerasan seksual serta penyalahgunaan foto dan data pribadi.

“Tubuh kita adalah milik kita. Tidak ada toleransi untuk kekerasan dan pelecehan. Kalau terjadi, jangan takut untuk speak up dan melapor,” tegasnya.

Menurut Hj Dian, keberanian menjaga batas personal dan melaporkan tindakan yang merugikan merupakan bagian dari membangun lingkungan pendidikan yang aman. 

Mahasiswa tidak boleh menganggap kekerasan maupun pelecehan sebagai konsekuensi yang harus diterima dalam proses pendidikan.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa membiasakan prinsip think before posting dan saring sebelum sharing. Setiap unggahan, komentar dan interaksi digital perlu dipertimbangkan secara matang karena ruang digital telah menjadi bagian dari identitas seseorang.

Di tengah ekosistem Politala yang terus berkembang, pesan tersebut memiliki konteks yang kuat. Kampus ini tidak hanya menjalankan pendidikan vokasi melalui 10 program studi, tetapi juga aktif mengembangkan prestasi mahasiswa dan kegiatan akademik maupun kemahasiswaan. 

Pada 2026, misalnya, Politala mencatat sejumlah capaian, termasuk juara umum MTQ Politeknik Tingkat Nasional serta prestasi mahasiswa dalam kompetisi nasional.

Artinya, mahasiswa memiliki banyak ruang untuk membangun portofolio. Tantangannya bukan sekadar bagaimana menjadi mahasiswa berprestasi, tetapi bagaimana memastikan prestasi tersebut berjalan beriringan dengan karakter dan reputasi yang baik.

Dalam kesempatan itu, Hj Dian juga memperkenalkan layanan Pemkab Tala melalui DP3AP2KB, antara lain Puspaga untuk konseling keluarga, parenting dan edukasi ketahanan keluarga; UPTD PPA untuk pendampingan hukum dan psikologis; Rumah Perlindungan Sementara; serta layanan darurat Raza Lakas 112 yang dapat diakses gratis selama 24 jam.

Seminar kemudian dirangkai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Ketua TP PKK Tala, Kepala DP3AP2KB Tala Maria Ulfah, dan Direktur Politala Dr Ir Meldayanoor SHut MS.

Kerja sama tersebut mempertegas bahwa pembentukan generasi muda tidak cukup dilakukan melalui ruang kuliah. Perlindungan, pendidikan karakter, literasi digital, pengembangan kompetensi dan keterlibatan sosial membutuhkan ekosistem yang dibangun bersama.

Sebab, bagi mahasiswa, empat tahun di kampus bukan sekadar perjalanan menuju ijazah. Ia adalah periode ketika kompetensi mulai dibentuk, karakter diuji, portofolio dikumpulkan, dan reputasi perlahan dibangun—termasuk melalui setiap jejak yang ditinggalkan di dunia digital.

(derapwaktu.com/dw1)