Kondisi tersebut membuat perjalanan pengendara berubah menjadi momen penuh kewaspadaan.
Kepulan asap dari area yang terbakar menyelimuti badan jalan hingga jarak pandang pengendara menjadi sangat terbatas.
Sejumlah pengendara yang melintas terpaksa mengurangi kecepatan. Lampu kendaraan dinyalakan untuk membantu melihat kondisi jalan di tengah kepungan asap.
Situasi ini menjadi perhatian karena Jalan Ahmad Yani merupakan salah satu jalur poros dengan mobilitas kendaraan yang tinggi antara Banjarmasin dan Banjarbaru.
Bagi pengendara roda dua, kondisi tersebut terasa semakin berisiko. Asap pekat yang berada tepat di depan kendaraan membuat jarak pandang sulit dipastikan.
Sementara itu pengendara tetap harus menjaga keseimbangan dan memperkirakan keberadaan kendaraan lain di sekitarnya.
Salah seorang pengendara, Suhairi, warga Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, bahkan memilih menghentikan kendaraannya untuk sementara.
"Saya pilih berhenti karena asapnya sangat pekat. Saya pakai motor, jadi khawatir kalau dipaksakan masuk ke dalam asap," tutur Suhairi.
Menurutnya, kondisi asap yang begitu tebal membuatnya kesulitan melihat situasi di depan. Ia memilih menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Kekhawatiran serupa dirasakan pengendara lainnya, Yamani, warga Banjarbaru. Ia mengaku terkejut ketika memasuki kawasan yang diselimuti asap.
"Memang sangat was-was. Pandangan hampir tidak kelihatan, jadi harus sangat pelan," ujarnya.
Di lokasi, petugas pemadam kebakaran Kabupaten Banjar tampak berjibaku melakukan penanganan.
Upaya pemadaman dilakukan untuk mengendalikan kobaran api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke area lainnya.
Karhutla di wilayah Gambut menjadi persoalan berulang selama musim kemarau. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kejadian karhutla juga dilaporkan terjadi di kawasan Gambut, termasuk di sekitar Jalan Ahmad Yani dan kawasan Jalan Gubernur Syarkawi.
Kondisi lahan gambut yang kering membuat penanganan karhutla membutuhkan pembasahan dan pendinginan berulang.
Bahkan, tim gabungan di kawasan Gambut sebelumnya juga melakukan pemantauan titik panas untuk mengantisipasi bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Bagi pengguna Jalan Ahmad Yani, persoalannya bukan hanya mengenai luas lahan yang terbakar, tetapi juga dampak langsung terhadap keselamatan perjalanan.
Ketika asap menutup jarak pandang, pengendara harus memperlambat laju kendaraan dan meningkatkan kewaspadaan untuk menghindari potensi kecelakaan.
Warga berharap kondisi kemarau ekstrem segera berakhir sehingga ancaman karhutla dan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dapat berkurang.
Bagi para pengguna jalur Banjarmasin–Banjarbaru, hujan menjadi salah satu harapan agar lahan kembali basah dan perjalanan di jalan utama tersebut dapat kembali berlangsung dengan jarak pandang yang normal.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)