Di kawasan Kelurahan Benua Anyar, Kecamatan Banjarmasin Timur, denyut itu masih terasa kuat.
Jauh dari kesan hiruk-pikuk pusat kota dan kawasan sungai yang telah dipercantik dengan siring, tepian Sungai Martapura di kawasan ini memperlihatkan wajah Banjarmasin yang lebih alami.
Rumah-rumah warga berdiri di tepian sungai. Aktivitas masyarakat berlangsung di atas air. Jukung kecil hilir mudik, sebagian digunakan untuk memancing, mencari udang hingga membawa dagangan.
Ada pula warga yang mengangkut hasil kebun dan kebutuhan sehari-hari menggunakan jukung maupun kelotok—perahu kecil bermesin tempel yang sejak dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banua.
Sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah jalan, pasar, ruang sosial sekaligus sumber penghidupan.
Kearifan lokal semacam ini menjadi bagian penting dari identitas Kalimantan Selatan. Sejak dahulu, sungai menjadi jalur transportasi yang menghubungkan kampung-kampung, membawa hasil pertanian dan perdagangan, sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah.
Jejak tradisi itu bahkan masih dapat dirasakan melalui aktivitas pasar terapung, salah satunya yang terkenal di Lok Baintan, Kabupaten Banjar, di aliran Sungai Martapura yang memiliki keterhubungan kuat dengan Kota Banjarmasin.
Di Banjarmasin, sungai menjadi bagian dari karakter kota yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Sungai Martapura di pusat kota ditata dan dikembangkan sebagai destinasi wisata sungai. Siring dibangun di sejumlah kawasan tepian sungai, menghadirkan ruang publik baru sekaligus wajah wisata perkotaan.
Namun, semakin bergerak ke arah pinggiran kota, wajah sungai yang lebih natural masih mudah ditemukan.
Benua Anyar menjadi salah satu potret itu.
Di kawasan tersebut, masyarakat masih beraktivitas dengan cara yang sangat dekat dengan sungai. Seorang warga terlihat memancing menggunakan jukung kecil. Warga lainnya mencari udang. Ada pula pedagang yang menjajakan pisang dan barang dagangan lain menggunakan jukung.
Pemandangan sederhana tetapi sarat makna juga terlihat ketika seorang ibu bersama anak laki-lakinya menaiki jukung untuk bepergian.
Tidak ada atraksi yang dibuat-buat.
Tidak ada panggung wisata.
Yang terlihat hanyalah kehidupan yang berjalan apa adanya—dan justru itulah daya tariknya.
Bagi wisatawan dari Surabaya, Hernawan, suasana tersebut menjadi pengalaman yang sulit ditemukan di perkotaan lain.
Hernawan datang ke Banjarmasin untuk urusan usaha.
Di sela kesibukannya, ia menyempatkan diri menikmati kopi dan makanan di tepian Sungai Martapura kawasan Benua Anyar.
Dari tempat duduknya, ia dapat menyaksikan langsung aktivitas warga di atas perairan.
“Unik banget aktivitas dan suasana kehidupannya. Duduk ngopi di tepi sungai sambil melihat aktivitas warga di perairan sungguh hal yang luar biasa,” ujar Hernawan, Jumat (4/9/2026).
Ia mengaku tertarik melihat bagaimana sungai masih menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan gambaran berbeda tentang Banjarmasin. Bukan hanya kota dengan bangunan dan jalan raya, tetapi kota yang kehidupan masyarakatnya masih memiliki hubungan erat dengan sungai.
Di sinilah kearifan lokal itu menemukan bentuknya. Sungai Martapura bukan hanya sesuatu yang mengalir di tengah kota. Bagi sebagian masyarakat, sungai masih menjadi ruang untuk mencari nafkah, bepergian, berdagang, bersosialisasi dan menjalani kehidupan keluarga.
Di atas air yang terus mengalir, tradisi itu bertahan dari generasi ke generasi.
Modernisasi boleh mengubah wajah tepian sungai. Siring boleh mempercantik pusat kota.
Namun, di sudut-sudut tertentu Banjarmasin, detak kehidupan sungai masih tetap sama: jukung bergerak, pemancing menunggu hasil, pedagang menawarkan dagangan, dan warga menyusuri air menuju tujuan.
Itulah wajah lain Banjarmasin.
Wajah yang mungkin sederhana, tetapi justru menyimpan kekayaan kearifan lokal yang tak ternilai.
Sebab bagi masyarakat Banua, sungai bukan sekadar air yang mengalir. Sungai adalah bagian dari kehidupan yang ikut menghidupi.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)