DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Laut (Tala) kembali menunjukkan eskalasi. Kepulan asap putih membumbung tinggi terlihat dari kawasan hutan belukar di Tanggul, Desa Padang, Kecamatan Bati-Bati, Rabu (8/7/2026) sore. Kemunculan titik api terbaru ini menambah daftar kebakaran lahan yang terjadi dalam sepekan terakhir di Bumi Tuntung Pandang.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui masyarakat melalui video amatir berdurasi sekitar lima detik yang dengan cepat beredar di berbagai grup WhatsApp dan media sosial. 

Rekaman itu memperlihatkan asap pekat putih kehitaman membubung dari tengah hamparan belukar, disertai  peta satelit yang menunjukkan lokasi kebakaran berada cukup jauh dari ruas Jalan Ahmad Yani.

Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan VI/Tanah Laut, Sufie Bhaskara, membenarkan adanya kebakaran di kawasan tersebut.

Namun, saat dikonfirmasi, personelnya masih berjibaku menangani kebakaran lain di wilayah Kecamatan Kurau. 

"Sementara kami sedang melakukan pemadaman di Desa Maluka Baulin, Kecamatan Kurau," ujarnya.

Ia menjelaskan lokasi kebakaran di Kurau berada di sekitar kawasan AURI dan kebun milik masyarakat sehingga menjadi prioritas penanganan agar api tidak semakin meluas.

Kemunculan asap di Desa Padang menjadi peringatan baru di tengah meningkatnya intensitas karhutla di Tanah Laut. Sebelumnya, pada 1 Juli, sekitar 20 hektare lahan semak belukar di jalur menuju Pantai Asmara, Kecamatan Jorong, hangus terbakar. 

Kala itu petugas gabungan membutuhkan waktu hampir lima jam untuk mengendalikan kobaran api.

Beberapa hari kemudian, api juga sempat muncul di kawasan lahan bondong di perbatasan Desa Gunung Raja dan Desa Sungaipinang, Kecamatan Tambangulang. 

Meski tidak sampai meluas, kemunculan titik api di kawasan rawan tersebut meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Selanjutnya, pada 6 Juli, sekitar dua hektare lahan di Desa Bati-Bati kembali terbakar sebelum berhasil dipadamkan oleh Damkar Sektor Bati-Bati bersama BPBD dan relawan.

Rentetan kejadian tersebut membuat warga mulai khawatir musim kemarau tahun ini berpotensi memicu kebakaran yang lebih besar.

Habibah (45), warga Kecamatan Bati-Bati,  mengaku setiap muncul kabar kebakaran lahan dirinya langsung teringat kabut asap yang pernah menyelimuti wilayah Tanah Laut beberapa tahun lalu.

"Sekarang mulai sering terdengar ada lahan terbakar.  Takut juga kalau terus berulang bisa menjadi kebakaran besar seperti dulu. Asapnya sangat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat," katanya.

Senada, Abdul Hamid (53), warga Kecamatan Tambang Ulang, berharap patroli dan pemantauan di kawasan bondong lebih diperketat.

"Jangan menunggu api membesar baru ditangani. Kalau titik api cepat ditemukan, kebakaran bisa dicegah sejak awal. Kami tidak ingin kejadian kabut asap dan banyak warga terkena ISPA terulang lagi," ujarnya.

Meningkatnya frekuensi kebakaran lahan ini terjadi di tengah status Siaga Darurat Karhutla yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. 

Pemerintah bersama Manggala Agni, BPBD, Damkar, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus mengimbau agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api sekecil apa pun agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.

(derapwaktu.com/dw1)