DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Lahan bondong di kawasan Teluk Paku, Desa Bati-Bati, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut (Tala), kembali dilalap si jago merah. Kebakaran yang terjadi pada Rabu (8/7/2026) sore
Kebakaran lahan itu menjadi kejadian kedua dalam sepekan di lokasi yang sama setelah sebelumnya api juga muncul pada 6 Juli lalu dan berhasil dipadamkan dengan cepat oleh personel damkar gabungan.
Kembalinya kebakaran di kawasan tersebut memunculkan kekhawatiran warga, terlebih Kalimantan Selatan kini mulai memasuki musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Berdasarkan data BPBD Tanah Laut, laporan kebakaran diterima sekitar pukul 16.40 Wita dari warga yang melihat api membakar lahan di Jalan Teluk Paku, Desa Bati-Bati.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Operasi pemadaman dimulai pukul 17.22 Wita dan baru dinyatakan selesai sekitar pukul 22.10 Wita.
Selama hampir lima jam, petugas berjibaku menghambat laju api yang membakar vegetasi berupa lahan bondong dan pohon galam.
Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 1,5 hektare, sedangkan area yang berhasil dipadamkan petugas sekitar 0,7 hektare.
Setelah dilakukan pendinginan, kondisi di lokasi dinyatakan aman dan api berhasil dipadamkan.
Proses penanganan melibatkan personel TRC BPBD Tanah Laut, Damkar Sektor Bati-Bati, Manggala Agni, serta relawan bersama masyarakat setempat.
Seorang warga Kecamatan Bati-Bati, Muhammad Arifin, mengapresiasi gerak cepat seluruh petugas yang langsung turun ke lokasi sehingga api tidak semakin meluas.
"Kalau petugas terlambat datang, apinya mungkin sudah menyebar lebih luas karena lahannya kering. Kami bersyukur BPBD, Damkar, Manggala Agni dan relawan cepat bergerak," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Meski demikian, ia mengaku mulai khawatir karena kebakaran di kawasan Teluk Paku kembali terulang hanya berselang beberapa hari.
Senada, warga lainnya, Norhayati, berharap pemerintah meningkatkan patroli di daerah rawan Karhutla.
Menurutnya, kemunculan titik api yang berulang perlu menjadi perhatian serius agar tidak berkembang menjadi bencana kabut asap seperti yang pernah terjadi beberapa tahun silam.
"Jangan sampai kebakaran terus bermunculan. Kami masih ingat saat kabut asap dulu, aktivitas terganggu dan banyak warga mengalami gangguan pernapasan. Semoga sekarang bisa dicegah sejak dini," harapnya.
Peristiwa ini menambah daftar kejadian Karhutla di Tanah Laut dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah dan masyarakat pun diharapkan semakin meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan cara dibakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
(derapwaktu.com/adh/dw1)
Komentar (0)