DERAPWAKTU.COMPELAIHARI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, kembali merebak, Minggu (5/7/2026) malam.Setelah kebakaran seluas sekitar 20 hektare di lahan semak belukar di jalur menuju Pantai Asmara, Kecamatan Jorong, pada 1 Juli lalu, kobaran api kembali terlihat di kawasan lahan bondong, malam ini.Kobaran api terlihat jelas dari jalan raya A Yani di wilayah RT 6 Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang. Ini merupakan jalur poros Pelaihari-Banjarmasin. 
Peristiwa tersebut cepat menjadi perhatian masyarakat setelah sebuah video amatir berdurasi sekitar 25 detik beredar luas di berbagai grup media sosial dan grup percakapan relawan di Kalsel sekitar pukul 21.21 Wita.
Pada rekaman yang diambil seorang pengendara sepeda motor itu, terlihat kobaran api berwarna merah menyala di tengah hamparan lahan rawa atau lebak yang luas. 
Lokasi kebakaran tampak berada jauh dari permukiman penduduk dengan api terus berkobar di tengah gelapnya malam.
Informasi dihimpun, api di kawasan bondong tersebut telah mulai muncul sejak siang. Namun tak begitu tampak karena hari terang. Jauhnya lokasi dan sulitnya akses menujunya menyulitkan petugas menjangkau.

Ketua RT 6 Desa Gunung Raja, Rohimi, mengatakan dirinya telah melakukan pemantauan dari kawasan Jembatan Empat Batang Banyu. 

Dari lokasi tersebut memang terlihat kobaran api, namun diperkirakan masih berada cukup jauh dari wilayah permukiman.

"Kalau dilihat dari Jembatan Batang Banyu memang terlihat kobaran apinya. Tetapi posisinya masih jauh dari wilayah RT 6 dan kemungkinan berada di kawasan perbatasan dengan Desa Sungai Pinang," ujarnya.

Rohimi langsung bergerak ke lapangan. Ia meluncur jalan raya arah ke Pelaihari untuk melihat dari jarak yang lebih leluasa untuk mengamati posisi kobaran api tersebut.

Lokasi api masih cukup jauh. Diperkirakan daei jalan raya setempat, jaraknya sekitar satu kilometer.

Sementara itu, Kepala Desa Gunung Raja, Samsiar, juga menyebut berdasarkan informasi awal, titik api berada jauh dari permukiman warga maupun dari ruas Jalan Ahmad Yani.

"Perkiraannya berada di kawasan perbatasan dengan Desa Sungai Pinang. Lokasinya jauh dari permukiman dan juga jauh dari jalan raya," jelasnya.

Munculnya kembali kobaran api tersebut menambah kewaspadaan terhadap ancaman karhutla di Tanah Laut. Sebelumnya, pada 1 Juli lalu, kebakaran hebat melanda sekitar 20 hektare lahan semak belukar di jalur menuju Pantai Asmara, Desa Asam Jaya, Kecamatan Jorong. 

Kobaran api saat itu baru berhasil dipadamkan setelah petugas gabungan dari BPBD, Satpol PP dan Damkar, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, relawan, dan masyarakat berjibaku selama hampir lima jam.

Rangkaian kejadian tersebut menjadi sinyal bahwa potensi karhutla mulai meningkat seiring mengeringnya vegetasi akibat musim kemarau. 

Pemerintah Kabupaten Tanah Laut sebelumnya telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui penguatan personel BPBD, penyiagaan armada pemadam, pembentukan relawan desa, serta mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. 

Termasuk untuk tidak membakar lahan, membakar semak, maupun membuang puntung rokok sembarangan.

Hingga Minggu malam, belum ada laporan resmi mengenai luas lahan yang terbakar di kawasan bondong yang diperkirakan berada di perbatasan Gunung Raja dan Sungai Pinang tersebut. 

(derapwaktu.com/dw1)