DERAPWAKTU.COM, MARTAPURA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar diperkuat dengan penambahan pasukan darat. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar menyiapkan hingga 10 tim baru dengan total sekitar 150 personel untuk mempersempit titik penanganan dan mempercepat pemadaman.

Langkah itu mengemuka dalam rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr Suharyanto di Posko Karhutla depan RSJ Sambang Lihum, Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Rabu (23/9/2026) siang.

Bupati Banjar H Saidi Mansyur mengatakan, penguatan pasukan diperlukan setelah dilakukan penyamaan data mengenai wilayah yang telah maupun belum mendapatkan penanganan.

Dari 20 kecamatan di Kabupaten Banjar, hampir 100 desa tercatat terdampak karhutla.  Potensi kebakaran masih mengintai menyusul panas yang kian terasa meninggi.

Kondisi tersebut membuat penanganan perlu dipetakan kembali agar kekuatan di lapangan tidak tersebar terlalu tipis.

“Beberapa titik ini menjadi fokus agar tidak tersebar,” ujar Saidi.

Menurutnya, Pemkab Banjar bersama TNI, Polri dan relawan akan membentuk sekitar 5 hingga 10 tim tambahan. 

Setiap tim diperkuat sekitar 15 personel sehingga tambahan kekuatan yang disiapkan dapat mencapai sekitar 150 orang.

Penebalan pasukan darat ini mendapat dukungan BNPB melalui bantuan sarana dan peralatan pemadaman. 

Dukungan juga diberikan dalam bentuk insentif atau upah harian bagi relawan yang terlibat dalam operasi penanganan karhutla.

Selain fokus memadamkan api, Pemkab Banjar mulai menyiapkan langkah perlindungan masyarakat dari dampak asap.

Di sektor pendidikan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) disiapkan apabila kondisi asap semakin pekat dan mengganggu aktivitas belajar di sekolah. 

Sementara sektor kesehatan dipersiapkan dengan pasokan vitamin dan masker, disertai edukasi kepada masyarakat agar menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Saidi juga meminta masyarakat tetap waspada menghadapi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober. 

Hujan diperkirakan mulai turun pada awal November, namun dengan intensitas yang masih rendah.

“Kurang lebih 50 hari kita masyarakat Kabupaten Banjar akan menghadapi kemarau panjang. Mudah-mudahan ini dibijaki dengan baik oleh masyarakat dan dihadapi bersama dengan pemerintah daerah serta seluruh komponen,” katanya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengapresiasi upaya penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. 

Meski kondisi belum sepenuhnya aman, kerja bersama pemerintah daerah, aparat, relawan dan masyarakat dinilai telah membantu mengendalikan kebakaran.

Namun, apresiasi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan menurun. 

Raja Juli menekankan pentingnya memperkuat pasukan darat karena berdasarkan evaluasi penanganan karhutla di sejumlah provinsi, kekuatan personel di lapangan masih menjadi bagian penting dalam upaya pemadaman.

Bagi warga Martapura, penguatan pasukan di lapangan diharapkan tidak berhenti pada penambahan jumlah personel, tetapi juga memastikan titik-titik api yang berada dekat permukiman mendapat perhatian cepat.

Kalangan warga di daerah ini juga berharap informasi mengenai kualitas udara dan kondisi karhutla disampaikan secara terbuka sehingga masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas, terutama anak-anak, lansia dan warga yang beraktivitas di luar rumah.

Penanganan karhutla kini tidak hanya berpacu dengan api, tetapi juga dengan waktu. Selama kemarau masih berlangsung, kesiapsiagaan personel, peralatan dan masyarakat menjadi kunci agar asap tidak semakin meluas dan mengganggu aktivitas warga.

(derapwaktu.com/roy)