DERAPWAKTU.COM, BANJARBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel ) masih menyisakan ancaman meski luasan lahan yang aktif terbakar kini disebut berada di bawah 40 hektare. 

Hingga September 2026, sekitar 20.000 hektare lahan tercatat pernah terbakar dari 2.663 kejadian.

Karakter lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama. Api tidak selalu terlihat di permukaan karena dapat bertahan dan menjalar di bawah tanah sebelum kembali muncul sebagai titik api.

Kondisi tersebut dilaporkan Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra saat Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meninjau Posko Penanganan Karhutla di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, Kamis (10/9/2026).

Wakil Gubernur Kalsel H Hasnuryadi Sulaiman turut mendampingi kunjungan tersebut bersama Kepala BNPB Suharyanto, Kapolda Kalsel Brigjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan serta unsur Forkopimda dan instansi terkait.

Menurut Ronny, Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi.

“HTH yang panjang menyebabkan muka air permukaan turun drastis. Lahan gambut menjadi kering dan sangat rentan terbakar,” ujar Ronny dalam paparannya.

Ia menjelaskan, kebakaran pada lahan gambut berbeda dengan lahan mineral. 

Api di gambut dapat menjalar di bawah permukaan sehingga penyiraman pada bagian yang terlihat belum tentu membuat api benar-benar padam.

“Jangan sampai api yang sudah kita padamkan di permukaan ternyata masih menyala di bawah. Karena itu, deteksi dan pemadaman harus dilakukan sampai benar-benar tuntas,” tegasnya.


1.700 Personel Disiagakan

Menghadapi karakter karhutla tersebut, Pemprov Kalsel membagi wilayah penanganan menjadi tiga zona prioritas.

Ketiganya meliputi kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor sebagai objek vital nasional, wilayah utara Kalsel serta wilayah timur dan selatan.

Sebanyak 1.700 personel disiagakan setiap hari di seluruh wilayah Kalsel. Sekitar 900 personel di antaranya difokuskan pada tiga zona prioritas, terutama kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor.

Penanganan dari udara juga diperkuat BNPB dengan satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), satu pesawat patroli udara, satu helikopter patroli dan tiga helikopter water bombing.

Untuk mendeteksi titik api yang sulit terlihat dari permukaan, sejumlah inovasi juga digunakan, termasuk alat suntikan gambut, cairan surfaktan dan drone thermal.

Polda Kalsel turut mengembangkan penggunaan teknologi tersebut untuk membantu menemukan titik panas di bawah permukaan lahan gambut.


Air dan Kanal Jadi Bagian Pengendalian

Selain pemadaman, ketersediaan air menjadi faktor penting dalam pengendalian kebakaran gambut.

Pemerintah bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) dan PUPR melakukan pembangunan kanal serta pintu air untuk menjaga ketersediaan air di kawasan rawan terbakar.

Lebih dari 100 mesin dongfeng juga pernah dikerahkan pada 2023 dan 2024 untuk mengalirkan air ke kanal-kanal buatan. 

Langkah tersebut dilakukan karena air tidak dapat mengalir secara alami akibat perbedaan elevasi sumber air dengan saluran irigasi yang mencapai sekitar 15 meter.

Patroli udara pun terus dilakukan untuk mendeteksi titik api lebih dini. Dalam patroli terbaru, Heli PK-RTK menemukan 15 titik api, sedangkan Heli PK-SNK menemukan 22 titik dengan total luasan sekitar 329 hektare.

Meski angka luasan kebakaran tahun ini disebut jauh menurun dibandingkan 2023, BPBD Kalsel mengingatkan potensi karhutla belum berakhir.

Pada 2023, luas lahan terbakar tercatat lebih dari 190.000 hektare. Tahun ini, angka yang dilaporkan sekitar 20.200 hektare.

“Angka memang jauh menurun dibandingkan 2023, tetapi kita tidak boleh lengah. Selama kondisi kering dan hari tanpa hujan masih panjang, potensi kebakaran tetap ada,” kata Ronny.


Wapres Minta TMC Dimaksimalkan

Dalam kunjungan tersebut, Wapres Gibran menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara agresif dan tidak hanya menunggu hujan alami.

BNPB diminta memaksimalkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Palangka Raya secara masif selama satu hingga dua minggu ke depan.

“BNPB diminta memaksimalkan operasi TMC di Palangka Raya secara masif dalam satu sampai dua minggu ke depan, tanpa bergantung pada penantian hujan alami,” tegas Gibran.

Gibran juga meminta kepala daerah memastikan respons terhadap titik api dilakukan dengan cepat dan langsung di lapangan.

“Seluruh kepala daerah diinstruksikan untuk selalu hadir langsung di lapangan guna memastikan setiap titik api, baik hotspot maupun firespot, dapat segera teratasi,” ujarnya.


Dampak ke Kesehatan dan Pendidikan

Penanganan karhutla juga diarahkan untuk melindungi masyarakat dari dampak asap, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

Gibran meminta kegiatan belajar mengajar di sekolah disesuaikan dengan kondisi udara melalui koordinasi antara sekolah dan orang tua murid guna mencegah peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Kegiatan belajar mengajar di sekolah harus selalu berkoordinasi dengan orang tua murid guna mencegah peningkatan kasus ISPA pada anak-anak dan kelompok rentan,” katanya.

Menurut Wakil Gubernur Kalsel Hasnuryadi Sulaiman, kunjungan Wapres menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Banua dilakukan secara bersama-sama, melibatkan pemerintah daerah, aparat, relawan dan unsur penanggulangan bencana.

Selain pemadaman, pemerintah juga menempatkan pencegahan dan penegakan hukum sebagai bagian dari penanganan agar kebakaran tidak terus berulang.

Status Siaga Darurat Karhutla Kalsel sendiri telah ditetapkan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026, sementara Posko Komando diaktifkan sejak 10 Juli 2026.

(derapwaktu.com/rin/rfq/adpim)


Foto: Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden RI