DERAPWAKTU.COM, BANJARBARU – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi salah satu perhatian peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36 Tahun Anggaran 2026. 

Tantangan terbesar yang mereka temukan adalah karakter api di lahan gambut yang bisa tetap menyala di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah telah dipadamkan.

Hal itu disampaikan Ketua Pokja Serdik Sespimti Kombes Pol Ronaldo Maradona Siregar saat melakukan kunjungan dalam rangka Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) di wilayah hukum Polda Kalsel.

“Kami melihat secara dekat operasi pemadaman yang dilakukan Polda Kalsel yang tergabung dalam Satgas Darat, terutama penerapan inovasi dan teknologi pendukungnya,” kata Ronaldo.

Menurutnya, penanganan kebakaran lahan gambut membutuhkan pendekatan berbeda karena bara api dapat bertahan di dalam tanah dan kembali muncul ke permukaan.

“Biasanya kita hanya memadamkan secara sporadis, namun hari ini padam besok muncul lagi apinya karena bara api di dalam tanah sebenarnya masih menyala,” ujarnya.

Temuan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan bagi delapan peserta didik Sespimti yang menjalani PKDN di Kalsel pada 7–11 September 2026.


Gubernur Dorong Sinergi Pemerintah-Polri

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta didik Sespimti juga melakukan silaturahmi dengan Gubernur Kalsel H Muhidin di Banjarmasin, Kamis (10/9/2026).

Muhidin menyambut kedatangan peserta didik yang datang untuk mempelajari secara langsung kondisi dan berbagai persoalan di Kalsel.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran informasi sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dan institusi kepolisian.

“Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan dan sinergi dengan Polri, TNI, serta seluruh Forkopimda untuk menjaga Kalsel tetap aman dan kondusif,” ujar Muhidin.

Ia menilai koordinasi lintas lembaga penting ketika daerah menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan bersama, termasuk karhutla.

“Kalau ada persoalan di daerah, yang paling penting adalah koordinasi. Kita duduk bersama, melihat masalahnya, kemudian menentukan langkah terbaik untuk kepentingan masyarakat,” katanya.


Belajar dari Persoalan Nyata di Daerah

Muhidin berharap para peserta didik Sespimti dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai karakteristik dan persoalan Kalsel selama menjalani PKDN.

Menurutnya, pengalaman melihat langsung kondisi lapangan dapat memberikan pemahaman berbeda dibandingkan mempelajari persoalan hanya melalui data maupun laporan.

“Kami berharap selama berada di Kalsel, para peserta dapat melihat langsung kondisi di lapangan, termasuk bagaimana pemerintah bersama Forkopimda menangani berbagai persoalan yang ada,” ujarnya.

Bagi peserta Sespimti, pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan personel, tetapi juga teknologi dan koordinasi lintas sektor.

Karakter api gambut yang dapat bertahan di bawah permukaan membuat proses deteksi dan pemadaman harus dilakukan secara lebih menyeluruh agar titik api tidak kembali muncul.

Muhidin berharap komunikasi yang terbangun selama PKDN dapat berlanjut setelah kegiatan berakhir dan menjadi bagian dari penguatan hubungan antara Pemprov Kalsel dengan institusi kepolisian.

“Semoga silaturahmi ini tidak berhenti pada kegiatan PKDN saja, tetapi menjadi bagian dari penguatan hubungan dan sinergi untuk bersama-sama memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.

(derapwaktu.com/rfq/adpim)


Foto: Septian Saputra/Biro Adpim