DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI — Sebuah tradisi perempuan Suku Mursi di Ethiopia kembali menarik perhatian setelah videonya beredar di media sosial, belakangan ini. 

Tradisi tersebut memperlihatkan perempuan dengan bibir bawah yang diregangkan hingga dapat dipasangi piringan berukuran besar.

Bagi masyarakat di luar komunitas Mursi, penampilan tersebut terbilang ekstrem. Namun, di balik bentuk yang bagi sebagian orang terlihat mengerikan, terdapat sejarah panjang tentang identitas, kecantikan, kedewasaan, hingga status sosial.

Suku Mursi bermukim di kawasan terpencil Lembah Omo, Ethiopia bagian selatan, tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Mago. 

Tradisi piringan bibir atau lip plate telah berlangsung turun-temurun dan menjadi salah satu ciri budaya yang paling dikenal dari komunitas tersebut.

Dua warga Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, Ristanti dan Hidayati, mengaku bergidik ketika pertama kali melihat video perempuan Mursi dengan bibir yang telah diregangkan tersebut.

Ristanti mengatakan, bentuk bibir yang terlihat dalam video membuatnya spontan merasa ngeri, terutama ketika mengetahui bahwa prosesnya dilakukan secara bertahap.

“Jujur saya bergidik melihatnya. Awalnya saya kira hanya memakai aksesori, ternyata bibirnya memang dibuat seperti itu. Membayangkan prosesnya saja sudah terasa sakit,” ujar Ristanti, Rabu (19/8/2026).

Senada, Hidayati mengaku sulit membayangkan bagaimana seorang perempuan harus menjalani proses tersebut sejak usia remaja.

“Kalau melihat dari sudut pandang kita, tentu kelihatannya mengerikan. Apalagi ada proses melukai bibir dan mencabut gigi. Tapi setelah tahu itu bagian dari budaya mereka, kita juga harus menghargai bahwa setiap masyarakat punya cara sendiri dalam memaknai kecantikan,” ucap warga Angsau, Pelaihari, ini.


Bukan Sekadar Aksesori

Piringan bibir yang dikenal sebagai dhebi bukan sekadar hiasan tubuh. Dalam budaya Mursi, praktik tersebut memiliki makna sosial yang berkaitan dengan kedewasaan, identitas, kecantikan dan status seorang perempuan.

Secara tradisional, prosesnya dimulai ketika seorang gadis memasuki masa remaja. Bibir bawah dibuat sayatan, kemudian diregangkan secara bertahap menggunakan pasak kayu yang ukurannya semakin besar sebelum akhirnya dapat dipasangi piringan.

Dalam sejumlah praktik tradisional, beberapa gigi seri bagian bawah juga dicabut agar piringan dapat ditempatkan. Proses tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Ukuran piringan yang mampu ditampung seorang perempuan secara tradisional bahkan dikaitkan dengan kecantikan, ketahanan fisik dan status sosial. 

Dalam sejumlah penjelasan mengenai budaya Mursi, ukuran piringan juga dikaitkan dengan nilai bride price atau pemberian perkawinan (mas kawin) berupa ternak.

Makin besar ukuran piringan atau makin dower bibir, maka tambah besar pula nilai mas kawinnya.

Karena itu, apa yang terlihat sebagai modifikasi tubuh ekstrem bagi masyarakat luar memiliki arti berbeda bagi masyarakat yang menjalankannya.


Cantik Karena Kuat

Dalam perspektif budaya Mursi, kemampuan seorang perempuan menjalani proses tersebut dipandang sebagai bentuk kekuatan dan ketahanan.

Piringan bibir juga menjadi penanda bahwa seorang gadis telah memasuki fase kedewasaan. 

Di tengah komunitasnya, tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya yang membedakan mereka dengan kelompok masyarakat lain di sekitar Lembah Omo.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ukuran kecantikan tidak selalu bersifat universal. Sesuatu yang dianggap aneh atau menakutkan oleh masyarakat luar dapat memiliki nilai kehormatan dan kebanggaan bagi komunitas yang menjalaninya.

Dalam antropologi, cara memahami budaya berdasarkan nilai yang berlaku di dalam masyarakat itu sendiri dikenal sebagai perspektif relativisme budaya.


Tak Selalu Dipakai

Piringan tersebut juga tidak selalu terpasang sepanjang hari. Dalam berbagai dokumentasi mengenai tradisi Mursi, perempuan dapat melepasnya ketika makan atau tidur.

Kondisi bibir setelah piringan dilepas tentu berbeda dengan bibir manusia pada umumnya. Aktivitas makan dan berbicara pun membutuhkan penyesuaian.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tradisi ini mulai dipertanyakan oleh sebagian generasi muda Mursi.


Generasi Muda Mulai Berubah

Arus pendidikan dan modernisasi perlahan mengubah cara pandang sebagian anak muda Mursi. 

Tidak semua remaja perempuan kini ingin menjalani proses pemotongan dan peregangan bibir.

Rasa sakit, perubahan gaya hidup, pendidikan, interaksi dengan masyarakat luar serta berkurangnya tekanan sosial menjadi sejumlah faktor yang mendorong sebagian generasi muda memilih mempertahankan bentuk bibir alami.

Di sisi lain, sebagian masyarakat yang tinggal di wilayah lebih terpencil masih mempertahankan praktik tersebut sebagai bagian dari warisan leluhur.

Pariwisata juga ikut memberi warna baru. Keunikan tradisi Mursi menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara, sehingga aktivitas berfoto dan kunjungan wisata turut menjadi salah satu sumber pendapatan bagi sebagian masyarakat setempat.


Antara Tradisi dan Pilihan

Tradisi piringan bibir Mursi pada akhirnya bukan hanya tentang bentuk fisik yang membuat orang luar terkejut. 

Di baliknya terdapat perjalanan panjang sebuah masyarakat dalam mempertahankan identitas, sekaligus menghadapi perubahan zaman.

Bagi Ristanti dan Hidayati, video tersebut memang membuat bergidik. Namun, keduanya menilai tradisi itu sebaiknya tidak hanya dilihat dari tampilan luarnya.

“Kalau melihat sekilas memang bikin merinding. Tetapi kita tidak bisa langsung mengatakan budaya mereka salah hanya karena berbeda dengan budaya kita,” ujar Ristanti.

Hidayati menambahkan, perkembangan zaman semestinya memberikan ruang bagi perempuan Mursi untuk menentukan pilihan atas tubuh dan masa depannya sendiri.

“Tradisi boleh dihormati, tetapi kalau generasi mudanya mulai memilih tidak melakukannya, pilihan itu juga harus dihargai. Yang penting kita memahami budaya mereka tanpa buru-buru menghakimi,” pungkasnya.

(derapwaktu.com/dw1)