DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI – Sebuah momen yang seharusnya menjadi waktu bermain berubah menjadi petaka.
Seorang bocah di Kota Lucknow, India, mengalami luka serius setelah diseruduk seekor sapi liar yang tiba-tiba berlari dan menyerangnya di depan rumah.
Insiden yang terekam kamera CCTV itu menjadi pengingat bahwa ternak yang dibiarkan berkeliaran bebas dapat sewaktu-waktu mengancam keselamatan manusia.
Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Arjunganj, Lucknow, pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 16.55 waktu setempat.
Rekaman CCTV yang beredar memperlihatkan korban tengah bermain ketika seekor sapi datang dari arah belakang dan langsung menyeruduknya hingga terpental.
Warga yang berada di sekitar lokasi segera memberikan pertolongan dan mengusir hewan tersebut.
Korban kemudian dilarikan untuk mendapatkan perawatan medis akibat luka serius yang dialaminya.
Meski terjadi di negara berbeda, peristiwa itu memiliki benang merah dengan persoalan yang kerap muncul di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan.
Bedanya, di Tala, ancaman lebih sering muncul di jalan raya ketika sapi atau kerbau yang dilepas bebas tiba-tiba menyeberang jalan dan memicu kecelakaan lalu lintas.
Tidak sedikit pengendara sepeda motor mengalami luka berat akibat menabrak maupun ditabrak ternak yang mendadak muncul di badan jalan. Terutama pada malam hari ketika jarak pandang terbatas.
Bahkan dalam salah satu kasus yang pernah terjadi, seorang perempuan yang sedang hamil tua menjadi korban dan mengalami luka berat setelah kecelakaan yang dipicu keberadaan ternak di jalan.
Persoalan ternak lepas di Tanah Laut juga tidak hanya menyangkut keselamatan pengguna jalan.
Data media ini, Selasa (4/8/2026), pada 2 Maret 2026, warga Desa Pemuda, Kecamatan Pelaihari, digegerkan dengan penemuan enam ekor sapi mati secara bersamaan di area kebun milik warga.
Bangkai ternak tersebut ditemukan dalam kondisi perut membesar seperti membengkak, sehingga sempat memunculkan berbagai dugaan dan kecurigaan di tengah masyarakat sebelum penyebab pastinya ditelusuri oleh pihak terkait.
Saat itu Kapolsek Pelaihari Iptu Benny Wishnu Wardhany bahkan turun ke lapangan guna mendeteksi kondisi di lokasi.
Kasus lainnya beberapa kali terjadi di sekitar Desa Telaga. Sapi-sapi yang berkeliaran masuk ke areal perkebunan kelapa sawit milik warga dan merusak tanaman.
Perselisihan antara pemilik kebun dengan pemilik ternak pun tak terhindarkan hingga harus dimediasi di kantor desa. Peristiwa tersebut bahkan sempat menjadi perbincangan luas di grup-grup WhatsApp maupun media sosial.
Sebagai salah satu sentra peternakan sapi terbesar di Kalimantan Selatan, Tanah Laut memiliki populasi ternak yang cukup tinggi.
Kabupaten ini juga dikenal memiliki pasar hewan terbesar di Kalimantan, sehingga aktivitas jual beli dan lalu lintas ternak berlangsung hampir setiap hari.
Besarnya populasi ternak menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan. Namun, di sisi lain, pengawasan terhadap hewan peliharaan menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Peristiwa di Lucknow menjadi cermin bahwa ternak yang lepas tanpa pengawasan bukan hanya berpotensi menimbulkan kerugian materi, tetapi juga dapat mengancam keselamatan bahkan nyawa manusia.
Karena itu, kepatuhan pemilik ternak untuk mengandangkan atau mengikat hewan peliharaannya, disertai pengawasan dari pemerintah desa dan instansi terkait, menjadi langkah penting agar kasus-kasus serupa tidak terus berulang, baik di India maupun di Kabupaten Tanah Laut.
(derapwaktu.com/dw1)
Komentar (0)