DERAPWAKTU.COM, INDIA — Sebuah serangan brutal di halte bus KSRTC Bantwal, Dakshina Kannada, Karnataka, India, menewaskan Lavanya, perempuan berusia 21 tahun yang bekerja sebagai perawat di sebuah klinik swasta.

Peristiwa tragis itu terjadi pada sore hari, 16 Juli 2026. Lavanya baru saja turun dari bus ketika didatangi Chetan, 22 tahun, yang disebut sebagai kerabat jauh sekaligus mantan kekasihnya.

Tanpa ampun, Chetan menyerang Lavanya menggunakan senjata tajam berukuran panjang. 

Serangan dilakukan berulang kali hingga korban mengalami luka parah, terutama di bagian leher belakang dan dada.

Sejumlah komuter dan warga yang berada di sekitar halte kemudian berusaha mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Pemerintah Bantwal Taluk.

Namun, nyawa Lavanya tak lagi tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia saat dalam perjalanan atau setibanya di rumah sakit.

Polisi Bantwal menduga pembunuhan tersebut dipicu rasa cinta bertepuk sebelah tangan. 

Hubungan asmara Lavanya dan Chetan disebut telah berakhir sekitar empat tahun sebelumnya.

Meski demikian, pelaku diduga masih terobsesi dan terus berusaha mengajak korban kembali menjalin hubungan. 

Penolakan Lavanya disebut berulang kali diikuti aksi menguntit dan ancaman.

Setelah melarikan diri dari lokasi kejadian, Chetan akhirnya berhasil ditangkap tim khusus kepolisian.

Dalam pelariannya, pelaku juga sempat mencoba mengakhiri hidup dengan mengonsumsi racun tikus. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit pemerintah dalam kondisi kritis.

Hingga kini, tidak ada keterangan resmi mengenai jumlah pasti luka bacokan yang dialami korban. 

Namun, pemeriksaan medis menyebut Lavanya mengalami banyak luka berat dan fatal akibat serangan senjata tajam tersebut.


“Seperti Membacok Batang Pisang”

Video penyerangan yang beredar di media sosial turut mengundang keprihatinan warga Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Seorang warga Tala yang mengaku sangat terpukul setelah melihat video tersebut, menilai tindakan pelaku begitu bengis terhadap perempuan yang tidak berdaya.

“Pilu sekali melihatnya. Perempuan itu lemah, tanpa senjata pun sudah tidak berdaya. Cara pelaku menyerang itu seperti membacok batang pisang. Benar-benar tidak berperikemanusiaan,” ucap Husna, Jumat (14/8/2026).

Warga lainnya, M Hamdi, juga mengaku heran melihat situasi di sekitar lokasi ketika serangan terjadi.

“Yang membuat miris, kenapa orang-orang di sekitar seperti tidak terlihat berupaya menghentikan atau menolong? Melihat videonya saja sudah terasa sangat mengerikan,” ucapnya. 

Kasus Lavanya kembali menjadi pengingat bahwa obsesi dalam hubungan bukanlah bentuk cinta. Ketika penolakan tidak dapat diterima dan berubah menjadi penguntitan, ancaman hingga kekerasan, situasinya dapat berujung pada tragedi yang merenggut nyawa.

Peristiwa ini juga menyisakan pertanyaan besar tentang keberanian orang-orang di sekitar untuk segera memberikan pertolongan ketika menyaksikan kekerasan di ruang publik.

(derapwaktu.com/dw1)


Catatan: Video terkait kasus ini mengandung adegan kekerasan dan tidak disarankan untuk ditonton anak-anak.