DERAPWAKTU.COM, INDIA – Tragedi mengerikan terjadi di kawasan hutan Korar, Distrik Kanker, Negara Bagian Chhattisgarh, India. 

Seekor beruang magor (sloth bear), spesies beruang asli anak benua India, mengamuk dan menyerang warga hingga menewaskan seorang ayah dan anak dalam dua serangan beruntun pada Sabtu (18/1/2025) sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Peristiwa memilukan itu bermula ketika Sukhlal Darro (45) bersama rekannya, Ajju Kureti (22), berjalan melewati jalur Bukit Jailnkasa di kawasan hutan Korar menuju ladang untuk mengumpulkan kayu.

Tanpa diduga, seekor induk beruang magor tiba-tiba muncul dari semak belukar dan langsung menyerang Sukhlal dengan sangat brutal menggunakan cakar panjangnya. Korban mengalami luka parah dan meninggal  di lokasi kejadian.

Ajju berhasil menyelamatkan diri, meski mengalami luka akibat serangan tersebut.


Serangan Kedua Saat Evakuasi

Kabar meninggalnya Sukhlal segera menyebar ke desa. Tak lama kemudian, ayah korban, Shankar Darro, bersama warga dan petugas Departemen Kehutanan mendatangi lokasi untuk mengevakuasi jasad.

Namun situasi justru berubah semakin tragis.

Beruang yang masih bersembunyi di sekitar lokasi tiba-tiba kembali muncul dan menyerang rombongan. 

Shankar Darro tewas seketika di tempat akibat serangan kedua, sementara seorang Deputy Forest Ranger mengalami luka ketika berupaya mengendalikan situasi.

Kedua korban meninggal di tempat kejadian perkara (TKP).


Bukan Memangsa Manusia, Mengamuk Tak Wajar

Hasil penyelidikan awal Departemen Kehutanan Kanker mengindikasikan perilaku satwa tersebut sangat tidak normal.

Petugas menduga kuat induk beruang itu terinfeksi rabies, sehingga mengalami gangguan sistem saraf yang membuatnya menjadi sangat agresif, menyerang siapa saja yang berada di sekitarnya tanpa provokasi.

Sebelumnya sempat beredar informasi bahwa amukan tersebut dipicu kematian anak beruang. Namun laporan investigasi terbaru menyebut induk beruang justru diduga membunuh anaknya sendiri sebelum insiden terjadi, sehingga dugaan rabies semakin menguat.

Meski video yang beredar memperlihatkan beruang terus mencabik tubuh korban, para ahli menjelaskan satwa tersebut bukan sedang memakan manusia.

Beruang magor merupakan satwa omnivora yang lebih banyak mengonsumsi rayap, semut, buah-buahan, dan madu. Saat menyerang manusia, cakar panjangnya digunakan untuk melukai wajah, kepala, dan tubuh sebagai bentuk pertahanan atau akibat perilaku agresif yang tidak normal.


Evakuasi Pakai Ekskavator

Situasi di lokasi sangat mencekam karena beruang terus bertahan di dekat jasad korban dan menyerang setiap orang yang mendekat.

Demi menghindari jatuhnya korban tambahan, petugas kehutanan bersama kepolisian akhirnya menggunakan alat berat jenis JCB (ekskavator) untuk mengevakuasi kedua jenazah tanpa harus berhadapan langsung dengan satwa tersebut.

Setelah proses evakuasi selesai, aparat terus melakukan penyisiran kawasan hutan Korar dan meminta warga tidak memasuki area hutan hingga kondisi benar-benar aman.


Satwa Dilindungi Ketat

Di India, beruang magor (sloth bear) merupakan satwa yang dilindungi di bawah Schedule I Wildlife Protection Act. Penanganan terhadap satwa liar tersebut sepenuhnya berada di bawah kewenangan otoritas kehutanan.


Warga Tanah Laut: Video Ini Sangat Mengerikan

Video tragedi tersebut turut mengundang keprihatinan warga Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Fauzan Ansori (38), warga Pelaihari, mengaku ngeri setelah menyaksikan rekaman kejadian itu.

"Saya sampai tidak sanggup melihat videonya sampai selesai. Sangat mengerikan. Ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak sembarangan memasuki kawasan hutan karena kita tidak pernah tahu kondisi satwa liar yang ditemui," ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Senada, Nur Aisyah (41), warga Kecamatan Takisung, mengatakan kejadian itu menjadi peringatan bagi masyarakat Kalimantan Selatan yang juga memiliki habitat beruang di sejumlah kawasan hutan.

"Walaupun kasus seperti ini jarang terjadi, kita tetap harus waspada. Kalau masuk hutan sebaiknya tidak sendirian, ikuti jalur yang aman, dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan satwa liar. Keselamatan harus menjadi prioritas," katanya.

Di Kabupaten Tanah Laut, dalam beberapa tahun terakhir, konflik antara manusia dan satwa liar juga beberapa kali terjadi, meski didominasi oleh serangan buaya muara di kawasan sungai maupun pesisir, terutama di wilayah Kecamatan Batakan dan sekitarnya.

Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik adalah seorang nelayan yang diserang buaya hingga mengalami luka berat dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Meski jenis satwanya berbeda, kedua peristiwa tersebut menegaskan pentingnya meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan hutan, sungai, maupun wilayah yang menjadi habitat alami satwa liar. 

Edukasi kepada masyarakat, pemasangan rambu peringatan, serta kepatuhan terhadap imbauan otoritas menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya.

(derapwaktu.com/dw1)