DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI — Api belum benar-benar pergi dari kawasan habitat bekantan di Desa Panjaratan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan.
Sehari setelah berhasil dipadamkan, kobaran api kembali muncul di areal preservasi tersebut, Rabu (9/9/2026).
Bahkan, kebakaran kali ini disebut lebih besar dibandingkan kejadian sehari sebelumnya.
Kondisi itu membuat ancaman terhadap kawasan yang menjadi habitat satwa endemik Kalimantan tersebut kian serius.
Bukan hanya vegetasi yang terbakar, keberadaan api juga berpotensi mengganggu ruang hidup bekantan dan satwa lain yang bergantung pada kawasan tersebut.
Sehari sebelumnya, Selasa (8/9), kebakaran mulai terpantau sekitar pukul 08.00 Wita. Tim pemadam dari PT KJW (Kintap Jaya Wattindo) bersama masyarakat Desa Panjaratan kemudian berjibaku memadamkan api hingga sekitar pukul 17.00 Wita.
Akses menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri. Sebanyak tiga klotok dikerahkan untuk membawa personel menuju kawasan yang terbakar.
Jalur sungai menjadi akses penting untuk menjangkau areal preservasi tersebut. Karena itu, ketersediaan sarana transportasi sungai turut menentukan kecepatan tim bergerak ketika titik api kembali muncul.
Pahrizal, anggota tim pemantau karhutla PT KJW Ranggang, mengatakan pihaknya siap membantu proses pemadaman di kawasan preservasi bekantan.
Menurut dia, tim pemantau api dan karhutla PT KJW Ranggang dapat dikerahkan untuk membantu, terutama jika tersedia fasilitas klotok untuk penyeberangan menuju lokasi.
“Kemarin terjadi kebakaran yang mulai sekitar pukul 08.00 Wita dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 17.00 Wita. Hari ini, Rabu, 9 September, kebakaran kembali terjadi. Kondisinya sepertinya lebih besar dibandingkan kebakaran kemarin,” ujar Pahrizal.
Bukan Sekadar Memadamkan Api
Kebakaran dua hari berturut-turut ini menjadi alarm bagi upaya perlindungan habitat bekantan di Panjaratan.
Tim Surai Bekantan mendorong agar penanganan tidak berhenti pada pemadaman ketika api sudah membesar.
Koordinasi lintas instansi dinilai penting untuk memperkuat pencegahan sekaligus mempercepat respons apabila kembali muncul titik api.
“Kalau bisa, segera diadakan rapat koordinasi yang melibatkan Pemerintah Desa Panjaratan, BPBD, BKSDA, Manggala Agni, dan Dinas Kehutanan untuk membahas koordinasi terkait karhutla ini,” demikian harapan yang disampaikan Tim Surai Bekantan.
Koordinasi menjadi semakin penting karena karakter lokasi yang tidak mudah dijangkau melalui jalur darat. Sarana transportasi sungai, personel, peralatan pemadaman hingga pola komunikasi antarpetugas perlu dipersiapkan sejak awal.
Pasalmya, ketika api sudah menjalar di kawasan hutan, waktu menjadi faktor penting.
Kebakaran juga tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan pemadaman. Kawasan yang terbakar merupakan ruang hidup satwa. Kerusakan vegetasi dan habitat dapat menimbulkan dampak yang lebih panjang dibandingkan durasi kebakarannya.
Warga Diminta Turut Ambil Peran
Pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Di tengah kondisi musim kemarau yang kering dan rawan kebakaran, aktivitas sederhana seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar lahan dapat menjadi pemicu munculnya api.
Pahrizal mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap karhutla sebagai tanggung jawab petugas semata.
“Harapan kita, seluruh elemen masyarakat saling membantu dan berkoordinasi untuk bersama-sama menjaga hutan dan alam," ucapnya
Hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain tidak membuang puntung rokok sembarangan. Jika merokok, pastikan puntungnya benar-benar sudah padam. Jangan pula membakar lahan dengan sengaja, apalagi kondisi musim kemarau tahun ini sangat kering.
Bagi warga di sekitar kawasan, kebakaran berulang di Panjaratan juga menjadi pengingat bahwa menjaga hutan berarti menjaga lingkungan tempat hidup bersama—termasuk satwa yang tidak bisa menyelamatkan habitatnya sendiri.
“Semoga kawasan habitat bekantan ini benar-benar mendapat perhatian. Kalau ada api, jangan sampai menunggu besar baru ditangani. Masyarakat juga harus ikut menjaga dan segera melapor kalau melihat asap atau titik api,” cetus Rahman, warga Pelaihari.
Warga Pelaihari lainnya, Yudian, mengatakan bekantan bagian dari kekayaan alam Tanah Laut sehingga harus dilindungi oleh semua pihak.
"Jangan sampai habitatnya rusak karena kebakaran yang sebenarnya bisa dicegah. Harapannya ada pengawasan dan pencegahan bersama, terutama saat musim kemarau," sebutnya.
Dua hari berturut-turut api menyentuh kawasan preservasi bekantan Panjaratan. Peristiwa itu menunjukkan bahwa tantangan sebenarnya bukan hanya bagaimana memadamkan api hari ini, tetapi bagaimana memastikan api yang sama tidak kembali muncul esok hari.
Sebab bagi habitat satwa, satu kebakaran bukan hanya meninggalkan abu.
Ia bisa berarti hilangnya ruang hidup yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih.
(derapwaktu.com/roy)
Komentar (0)