DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI -
 Kabut asap menyelimuti siang di jalur Pelaihari–Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (18/10/2026). 
Matahari yang biasanya terlihat terang pada siang hari kali ini tak tampak karena tertutup lapisan asap yang menyelimuti kawasan tersebut.

Pantauan derapwaktu.com, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, jalur penghubung Pelaihari–Banjarmasin, menunjukkan asap tipis yang menyelimuti kawasan jalan.

Meski terlihat jelas, jarak pandang saat pemantauan masih relatif memadai bagi pengguna jalan.

Fenomena ini terpantau mulai wilayah Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut (Tala), hingga menuju Kota Banjarmasin. 

Lapisan asap terlihat lebih tebal di sekitar perbatasan Tala–Banjarbaru, khususnya kawasan Desa Pandahan, Kecamatan Bati-Bati, serta wilayah Pengayuan di Kota Banjarbaru.

Kondisi tersebut membuat suasana siang terasa berbeda. Langit tampak seperti mendung, tetapi bukan karena awan yang menutupi matahari, melainkan asap yang menyelimuti udara.

“Berasa kayak gimana begitu, karena kayak mendung tapi bukan mendung. Matahari tak kelihatan,” ucap Sifana, warga Pelaihari yang sedang dalam perjalanan menuju Banjarmasin.

Menurutnya, kondisi tersebut mengingatkan pada suasana di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang juga kerap diselimuti kabut asap saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemandangan langit yang tertutup asap itu menjadi perhatian di tengah persoalan karhutla yang masih membayangi sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

Pekerja swasta ini berharap kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terjadi sehingga kabut asap dapat segera menghilang dan kondisi udara kembali normal.

Harapan tersebut muncul di tengah dampak musim kering yang juga dirasakan sebagian masyarakat, termasuk persoalan ketersediaan air bersih. 

Sifana mengungkapkan dirinya turut mengalami kesulitan air ketika sumber air sumur mulai mengering.

Bagi masyarakat, berakhirnya kabut asap bukan sekadar soal kembalinya langit cerah. 

Upaya mencegah kebakaran juga penting untuk mengurangi gangguan terhadap aktivitas sehari-hari, menjaga keselamatan pengguna jalan, serta meringankan beban warga yang menghadapi kesulitan air bersih.

Meski jarak pandang di jalur Pelaihari–Banjarmasin masih relatif memadai saat pemantauan, pengendara tetap perlu berhati-hati, terutama apabila ketebalan asap meningkat dan jarak pandang berubah.

(derapwaktu.com/roy)