DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI  – Aula GKT Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala), Jalan A Yani, Desa Panggung, Kecamatan Pelaihari, dipenuhi suasana haru dan kebanggaan saat ratusan mahasiswa dari sejumlah program studi mengikuti yudisium sebagai penanda berakhirnya masa pendidikan mereka.

Sebanyak 346 mahasiswa Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) resmi dinyatakan lulus melalui Yudisium Diploma III Angkatan XV dan Diploma IV Angkatan II Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar dalam dua sesi. 

Momentum akademik di Kampus Politala, Rabu (5/8/2026), itu menjadi penanda lahirnya ratusan tenaga vokasi baru yang dipersiapkan menjawab kebutuhan dunia kerja.

Yudisium dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama diikuti 176 mahasiswa dari Program Studi D3 Teknologi Informasi, D3 Agroindustri, dan D4 Teknologi Rekayasa Konstruksi Jalan dan Jembatan.

Sementara sesi kedua diikuti 170 mahasiswa dari Program Studi D3 Akuntansi, D3 Teknologi Otomotif, D4 Teknologi Pakan Ternak, dan D4 Teknologi Rekayasa Komputer Jaringan

Direktur Politala, Dr  Ir Meldayanoor, SHut MS mengatakan yudisium bukan sekadar pengumuman kelulusan, melainkan peneguhan bahwa mahasiswa telah memenuhi seluruh capaian pembelajaran dan layak menyandang gelar akademik sesuai bidang keahliannya.

"Keberhasilan ini tidak diraih secara instan. Ada proses panjang, mulai dari perkuliahan, praktikum, tugas proyek, kegiatan lapangan hingga penyusunan tugas akhir. Karena itu saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yudisium dan terima kasih kepada orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Politala," ujarnya.

Meldayanoor menegaskan, tantangan lulusan vokasi saat ini bukan hanya memperoleh ijazah, tetapi mampu membuktikan kompetensi di dunia kerja yang terus berubah.

Karena itu, sepanjang 2026 Politala terus memperkuat kualitas pendidikan melalui berbagai program strategis, mulai dari sertifikasi kompetensi bagi 130 mahasiswa, revitalisasi pendidikan vokasi, peningkatan kerja sama industri hingga pengembangan riset dan inovasi.

Pada kesempatan itu, ia juga memaparkan berbagai capaian membanggakan Politala sepanjang tahun 2026. Kampus vokasi tersebut berhasil menjadi Juara Umum MTQ Politeknik Tingkat Nasional saat menjadi tuan rumah penyelenggaraan pada April lalu.

Di bidang olahraga dan seni, kontingen Politala membawa pulang tujuh medali pada Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) XV Politeknik se-Indonesia di Medan, terdiri atas satu medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu.

Prestasi mahasiswa juga terus bertambah melalui berbagai kompetisi nasional hingga internasional, mulai dari National Speech Competition, National Welding Competition, kompetisi UI/UX, Cybercombat, hingga Orchid Landscape Competition di Malaysia.

Tidak hanya itu, Politala juga memperluas jejaring internasional melalui program double degree bersama Cheng Shiu University, Taiwan. Program tersebut memberi kesempatan mahasiswa menempuh pendidikan selama dua tahun di Politala dan dua tahun di Taiwan, sekaligus membuka peluang magang dan bekerja di perusahaan mitra.

Sementara dari sisi penguatan pembelajaran, Politala menerima hibah tiga unit alat berat dari PT Thriveni Indo Mining, beasiswa bagi 14 mahasiswa dari PT Arutmin Indonesia, serta pendanaan berbagai riset dan pengabdian masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Direktur Politala menambahkan, kampus juga terus mendukung Program Satu Desa Satu Lulusan Pendidikan Tinggi yang digagas Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. 

Program tersebut ditujukan memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah dari 135 desa dan kelurahan.

Menutup sambutannya, Meldayanoor mengingatkan para lulusan agar menjadikan ilmu sebagai sarana mengabdi, bukan sekadar kebanggaan pribadi.

"Gelar yang diraih bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin santun tutur katanya, semakin baik sikapnya, dan semakin besar kepeduliannya," pesannya.

Ia juga mengutip hadis Khairunnas anfa'uhum linnas yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, serta mengingatkan falsafah Banjar "Bisa-bisa meandak awak", yakni mampu menempatkan diri dengan bijaksana di mana pun berada.

"Yudisium bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian. Ilmu akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam karya, integritas, dan kepedulian kepada sesama," tutupnya.

(derapwaktu.com/dw1)