DERAPWAKTU.COM, PELAIHARI — Usia senja ternyata bukan alasan untuk berhenti belajar. Sebanyak 71 warga lanjut usia (lansia) di Kabupaten Tanah Laut (Tala) justru menutup proses pendidikan mereka dengan sebuah wisuda.

Momen penuh makna itu menjadi bagian dari Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 sekaligus Wisuda Sekolah Lansia Tahun 2026 yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Tala di Gedung Balairung Tuntung Pandang, Pelaihari, Rabu (12/8/2026).

Pengukuhan 71 wisudawan dan wisudawati oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan Lisna Prihantini menjadi salah satu titik emosional dalam kegiatan tersebut.

Para lansia yang mengikuti program pendidikan nonformal itu tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga didorong untuk menjaga kesehatan, meningkatkan kemandirian, serta tetap aktif menjalani kehidupan sosial di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Pesan tersebut mempertegas bahwa pembangunan keluarga seharusnya tidak hanya berorientasi pada anak dan generasi produktif. Lansia juga merupakan bagian penting dari ekosistem keluarga yang membutuhkan ruang untuk tetap berkembang dan dihargai.

Wakil Bupati Tanah Laut HM Zazuli mengatakan, momentum HARGANAS ke-33 harus ditempatkan lebih jauh dari sekadar agenda seremonial.

Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Karena itu, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang sehat, harmonis dan mampu melahirkan generasi berkualitas.

Hal itu juga dikaitkan dengan tema nasional HARGANAS tahun ini, “Ayah Hadir, Ibu Terhibur, Anak Ceria.”

H Zazuli menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga. Peran ayah, katanya, tidak sebatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pelindung sekaligus teladan bagi anak.

“Ayah bukan hanya pencari nafkah atau kepala rumah tangga, tetapi juga teladan yang memberikan pendidikan, perlindungan, waktu, serta kasih sayang,” ujarnya.

Kehadiran ayah dan penguatan fungsi keluarga dinilai memiliki kaitan erat dengan kesehatan keluarga, ketahanan rumah tangga, pencegahan stunting hingga pembentukan generasi yang unggul dan berdaya saing.


Warga: Lansia Harus Tetap Diberi Ruang

Apresiasi terhadap keberadaan Sekolah Lansia juga datang dari masyarakat Tanah Laut. 

Program tersebut dinilai memberikan perspektif baru bahwa memasuki usia lanjut bukan berarti seseorang harus berhenti beraktivitas dan belajar.

Rahmiyani, pekerja swasta asal Tala, menilai Sekolah Lansia menjadi wadah positif karena memberikan kesempatan kepada orang tua untuk tetap aktif dan bersosialisasi.

“Menurut saya bagus sekali. Lansia bukan berarti hanya tinggal di rumah. Mereka juga perlu kegiatan, teman dan pengetahuan baru agar tetap semangat,” ujarnya.

Senada, Hariyani, pekerja swasta, menilai perhatian terhadap lansia seharusnya menjadi bagian dari kehidupan keluarga sehari-hari.

“Yang paling penting jangan sampai orang tua merasa sudah tidak dibutuhkan. Mereka tetap punya pengalaman dan peran besar dalam keluarga. Program seperti ini bisa membuat mereka lebih percaya diri dan merasa dihargai,” katanya.

Puncak HARGANAS ke-33 di Tala akhirnya meninggalkan pesan yang lebih luas: membangun keluarga bukan hanya tentang menyiapkan masa depan anak, tetapi juga memastikan orang tua dan lansia tetap memiliki tempat, peran, dan penghargaan di dalam keluarga.

Wisuda 71 lansia pun menjadi simbol sederhana bahwa belajar, berkarya dan menjadi berarti tidak memiliki batas usia.

(derapwaktu.com/dw1)